Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda

(I)

Pergi mengembara selagi usia masih muda
Sebab nanti bila janggut sudah turun bagai salju, putih
tak’kan punya lagi waktu, selain berbaring dengan muka sedih

Pergi mengembara ke mana saja, misalnya ke desa-desa
melihat segala yang dapat dilihat
Mencatat segala yang dapat dicatat:
Petani yang bagai kerbau dan kerbau bagai petani
Yang selalu punya harapan, betapapun kecilnya hasil yang mereka dapatkan.

Pergi mengembara selagi usia masih muda, sebab
jika pantat sudah kapalan karena terlalu lama
duduk di bangku sekolah, dan sudah kelewat lelah
Buat memahami segalanya. Pergi,
pergi kemana saja menjelajahi kehidupan dunia
Dan jangan sekadar ikut kursus.
buat memerintah dan jadi pengurus.

Pergi mengembara sampai batas kehidupan dunia
Di mana orang tiada lagi tahu apa sebenarnya yang dituju
Linglung kepada hal yang baik, bingung kepada hal yang buruk.

Sebab kehidupan tidak seperti ujar kiyai
Cukup dengan hanya mengaji, lalu mengunci diri
Sedang baris ayat suci jadi beku, lapuk dan basi.
Di mana orang mulai merasa, dengan kehidupan ikut terlibat.
Kebaikan hanyalah sekadar aturan minum obat
Tunggu waktunya, nantikan saat yang tepat, bagai sembahyang, tidak sembarang waktu kau kerjakan.
Karena itu lebih baik pergi, cari apa yang bisa didapat
Selagi badan masih kuat, selagi pikiran masih sehat.

(II)

Dan di kala matahari berangsur turun masuk ke kampuh pelupuh
Badan akan pelan-pelan membungkuk
Berat oleh dosa, ringkuh oleh usia
dan sejak itu, siapapun mulai rindu
Inginkan ayat-ayat. Haus akan ilmu, dahaga kalimat mukjizat
Hingga suara kliningan penjual es, kau sangka lonceng gereja
Atau suara lantang penjual ikan, kaukira modin adzan.

Nikmat mengenangkan waktu yang lewat, itupun semacam kesibukan
Waktu sekadar relaks, melemaskan urat-urat
Dan sambil membopong cucu, kau sumpahi anak menantu
Karena keterlaluan, pulang dari luar negeri
Cuma membawa televisi.

Dan kau’kan marah garang, melihat kehidupan zaman sekarang
Sebab dengan hanya membaca komik, berani terjun ke dalam politik
Atau sambil memutar film cabul
berapat, lalu membuat usul.

(III)

...
Itulah semua, jika usia sudah tua
Bahwa selain encok, batuk dan selesma
Kau pun diserang nostalgia.

1972
Puisi: Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda
Puisi: Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda
Karya: Dodong Djiwapradja
    Catatan:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    Baca Juga: Puisi Cinta Negeriku

    Post A Comment:

    0 comments: