Puisi: Pidato Seorang Petani Menjelang Akhir Hayatnya Karya: Dodong Djiwapradja
Pidato Seorang Petani
Menjelang Akhir Hayatnya

Teman-teman setetangga
Akhirnya kita berpisah juga,
domba-domba pulang ke kandang
burung-burung pulang ke sarang
cuma, inilah bedanya:
aku tidak akan kembali
ke ladang seperti biasa
karena jagung punya umur
kacang punya usia
dan akulah padi
yang tidak berbenih lagi.

Semua karena tiba waktunya
jalan sudah sampai di batas
sungai sudah tiba di muara
begitulah usia, begitulah manusia
apalagi aku
petani yang ketiban penyakit.

Kuucapkan terima kasih
kepada kalian, teman seperjuangan
yang telah berjalan bersama
bekerja bersama, menggarap tanah
bukan punya kita.

Namun demikian kita tetap gembira
atau seakan-akan gembira
demi terlihat oleh anak cucu kita
yang juga akan seperti kita
ataukah lebih dari kita?

Namun sebagai orang tua mengharap
supaya kata-kata lebih
tidak dalam arti lebih buruk
kuharap mereka lebih baik dari kita.

Sekali lagi kuucapkan
terima kasih
kepada teman-teman
yang sudi menengok waktu sakit
meski tak punya duit.

Hanya, dalam pada itu
maafkan jika keterlaluan
bukan tidak tahu aturan
cuma karena desakan hati
yang tak tertahankan.

Maaf, bila ku berkata:
apakah maknanya ini
upacara setengah keramat
atau puji-pujian mengantar mayat?

Bila ada yang menangis
silahkanlah, menangis
sepuas suka -
karena malaikat, datang bagaikan kuat
tidak seperti penarik pajak
yang dengan teliti cermat
menagih rakyat melarat...

(Ketika jam tiga lewat
maka, setelah kakinya tersentak
sejenak
lalu mata pun tertutup
dan nafasnya berhentilah)

Puisi: Pidato Seorang Petani Menjelang Akhir Hayatnya
Puisi: Pidato Seorang Petani Menjelang Akhir Hayatnya
Karya: Dodong Djiwapradja
    Catatan:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    Baca Juga: Puisi Cinta Romantis Panjang

    Post A Comment:

    0 comments: