Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Syair Kebangkitan (Karya Yudhistira A.N.M. Massardi)

|
Syair Kebangkitan (1)

Gelisah penyair tak pernah mati
Selama Kebenaran tegak abadi
Maut hanya istirah
Tuhan kembali menggerakkan kehidupan
Kehidupan menggerakkan hasrat akan kebenaran
Kebenaran menggerakkan pena para penyair

Puisi mungkin bukan abdi yang baik
Tapi kesetiaan pada hati adalah suci
Bila gunung tak runtuh oleh badai
Keangkuhan takluk pada kata
Maka puisi bukan hanya sunyi
Dari keheningan ia menyanyikan cinta

Dari pusat nafas kehidupan
Dari tengah gelisah suatu zaman
Penyair bangkit mengumandangkan harapan
Manusia selalu ingin mendengarkan
Di satu sudut yang suram cahaya
Keyakinan masih terus dinyanyikan

Jangan hitung berapa perak yang mereka bayarkan
Meski penyair hidup bagai si pengelana
Keindahan dan penikmatan cukup untuk melanjutkan perjalanan
Meski kemiskinan ada di tenggorokan
Air kebenaran harus terus dikucurkan!


Syair Kebangkitan (2)

Manusia kini tercekik oleh selaksa dahaga
Percepatan mengeringkan lidah-lidah yang jalang
Sendi-sendi kehidupan rontok bagai jemari kusta
Kutuk sebenarnya mungkin belum lagi tiba
Tapi kita sudah gemetar

O, Abad yang mengenaskan!

Bila semua gelas tiba-tiba pecah
Rambut-rambut rontok dan baja meleleh
Kemudian bumi mengkerut dan langit runtuh
Apakah ada yang masih bertahan?

Bencana!

Ruh pun akan luluh
Tuhan  hilang jejak
Ke mana kita menyeru?

O, Abad yang mengenaskan!

Kau menghadang semua pemburu di tiap penjuru
Kau menghadang para kelana, peziarah yang sabar
Kau menghadang setiap puncak pengetahuan!
Maukah Kau berpaling sedikit saja?

Berilah kesempatan bagi penyair
Kata-kata telah dihamili waktu jaga
Biarkan ia melahirkan kesadaran
Agar yang bercinta tetap waspada
Agar yang terlupa bisa berkaca


Syair Kebangkitan (3)

Cermin zaman memantulkan suka-duka
Ada kemajuan terus-menerus
Ada kemerosotan makin mencemaskan
Ada peringatan terus-menerus
Ada pengingkaran tak kenal batas

Berjuta warga telah terluka
Langit terbakar tujuh lahar
Bumi terkoyak cakar siksa
Samudera terdampar di padang gersang
Semuanya karena pengkhianatan
Semuanya karena kita!

Kita telah membiarkan cinta menjadi tembaga
Kita telah membiarkan lidah menjadi bisa
Kita telah membiarkan pena menjadi hina
Kita telah membiarkan pikiran menjadi ular kobra
Kita telah membiarkan pengetahuan menjadi kura-kura
Kita telah membiarkan agama menjadi arca
Kita telah membiarkan kehidupan menjadi sia-sia

Apa yang terjadi dengan penyair?

Tidak. Tak perlu lagi korban jatuh
Selama kesetiaan masih ada
Kesetiaan pada nafas kita
Kesetiaan pada udara
Kesetiaan pada air, api dan tanah
Kesetiaan pada hidup dan Penciptanya
Kesetiaan pada puncak percintaan dengan Tuhan
Kesetiaan pada Citra Ilahi dalam diri kita sendiri
Biar hanya sedikit
Berarti masih ada harapan

Mereka yang tetap mengusap matanya dengan tabir hitam
Mereka yang tetap mengusap mulutnya dengan kertas hitam
Mereka yang tetap mengusap lehernya dengan kain hitam
Mereka yang tetap mengusap dadanya dengan tangan hitam
Mereka yang tetap mengusap perutnya dengan lemak hitam
Mereka yang tetap mengusap kemaluannya dengan air hitam
Mereka yang tetap mengusap kakinya dengan debu hitam
Mereka akan tetap terbelenggu dalam kehinaan!


Syair Kebangkitan (4)

Cahaya adalah penerang kebenaran
Berpihaklah hanya kepadaNya
Keyakinan ini tonggak utama
Ia bisa menahan setiap empasan

Kemudian kita jalan berpencar
Ikuti getaran kegelisahan
Di sana takhta tujuan
Di sana Cinta berpendar

Cukupkan sudah kelengahan
Selagi waktu masih ada
Duka-cita harus berakhir
Bersama bendera yang berkibar

Angin bisa menyebarkan wangi kemenangan
Bunga-bunga mekar di tiap kelopak bangsa
Hijau daunan, kuning perlawanan
Tegaklah pohon peneduh!

Musuh kita ialah jiwa yang sungsang
Berabad-abad sejak awal sejarah
Agama-agama berdiri lalu jatuh
Pengetahuan meninggi lalu lepuh
Kita pun saling membunuh!

Tangan kita berlumuran darah
Generasi demi generasi
Golongan demi golongan
Dada-dada terbelah
Tak ada penyesalan!

Apabila kekejaman menjadi tonggak negara
Darah menjadi permadani
Apabila kebutaan menjadi pemimpin bangsa
Bencana menjadi singgasana

Manusia selalu terlempar ke pusaran yang zalim
Mereka saling mengisap dan berdiri di kaki derita
Tembok peringatan tak pernah menjadi batas
Nafsu-nafsu bersatu mengempaskan batu
Reruntuhan menggantikan dinding beledu


Syair Kebangkitan (5)

Penyair bukanlah bangsa benalu
Ia pohon berakar dalam
Menghujam bersama berjuta kaki
Mengikat debu di bumi
Itulah akar yang berdenyut
Memompa darah bangsa
Memasuki urat nadi

Siapa yang cinta tumbuhan
Ia pun cinta penyiang
Maka siramlah segenap ladang
Agar rumput pun kembang
Dan pandan hijau bersusun
Dan syair ranum mengharum

Seni adalah rahasia Ilahi
Ia menghuni wilayah matahari
Yang sampai kepadanya
Sampai pula kepadaNya
Yang terbias cahayanya
Terbias pula CahayaNya

Maka, kesenian adalah bintang di bumi
Ia beredar antara massa
Mengitari hari dan hati
Menggerakkan jiwa yang mati

Bangkitlah o, jiwa mati!

Masih ada jalan
Masih ada ruang sejarah
Masih ada menara waktu

Perahu belum lagi berlabuh
Pengembara belum lagi berteduh
Dahaga belum lagi tersembuh

Bangkitlah o, jiwa mati!


Syair Kebangkitan (6)

Pancuran mengalirkan air hayat
Reguklah demi puncak kesegaran
Biarkan kepala terendam
Dalam kolam kehidupan

Abad kita kini adalah abad yang genting
Kegelapan di zaman silam
Menjadi garis bayang di depan
Ialah bayang-bayang pohon yang tumbang

Bangkitlah o, jiwa mati!

Gerakan kebudayaan begitu pacu
Ia melecut kaki-kaki yang rapuh
Keledai-keledai terseok oleh beban kemajuan
Manusia merangkak dengan ladam terpaku

Citra Ilahi bukanlah punggung melengkung
Manusia harus tegak di bumi
Berjalan dengan kedua kaki
Kepala menaklukkan alam
Telapak menaklukkan jarak

Tengoklah fajar yang datang
Matahari mengukirkan cahaya di pucuk daun
Embun memoleskan sari pagi
Unggas menyanyi, “Bangunlah hari ini...


Syair Kebangkitan (7)

Alam yang tak terguncang
Tetap menyediakan salam
Tapi bagian yang dihancurkan
Memasang jebakan yang memilukan

Rimba luka memangsa tanahnya
Laut luka memangsa isinya
Langit luka memangsa musimnya
Gunung luka memangsa lerengnya
Hewan luka memangsa bangsanya
Manusia luka memangsa segalanya!

O, garis-garis menyilang telengas
Segala cinta rusak binasa

Apakah puisi masih bernyanyi?

Puisi mendesir lirih sunyi
Bergeser antara kembang
Kupu-kupu mengepakkan warna
Tetes madu pada kata
Titik sajak pada rasa

Sang penyair masih bernyanyi!

Penyair harus tetap bernyanyi
Mendendangkan kidung abadi
Mendinginkan kaki yang lepuh
Memberi ketukan antara denting
Melumasi sendi yang garing
Meluruskan punggung melengkung

Tegaklah bagal yang malang!

Oktober, 1985

Syair Kebangkitan (8)

Apabila kesadaran bertakhta kembali
Berarti gerbang selangkah lagi
Mari masuki, mari kita sama nikmati
Keindahan yang menyatukan bumi

Bukalah halaman pertama dari kesabaran
Sebab hanya itu pembuka persoalan
Tinggal dan lupakan segala silam
Bangkitkan gairah kepada Jalan

Jalan kita telah lama limbung oleh tujuannya
Ia tersesat memasuki wilayah-wilayah tanpa batas
Ia meluncur ke pusat-pusat mimpi yang menikam
Ia terseok ke kubur-kubur yang kelam
Ia tercekik olah Utara dan Selatan, Kiri dan Kanan, Depan dan Belakang

O, cakrawala yang lancung!

Alangkah pedih perolehan zaman ini
Padahal hewan-hewan pun telah lama berisyarat
Udara, air, dan bahkan debu berkata-kata
Tapi manusia sibuk dengan mata angin mereka
Seakan hendak menjerat masa depan
Dengan umpan sebuah matahari buatan
Akhirnya mereka sendiri kehilangan Timur dan Barat
Musim demi musim meninggalkan waktu jaga
Hujan, badai dan segenap bencana pun sama mengaum
Mereka menjebol kerangkeng dan mengamuk ke segala arah
Atlas pun remuk dengan garis bersilangan!


Syair Kebangkitan (9)

Mari kita urai kembali kekusutan jalan di hutan waktu
Biarkan kaki dan tangan para raksasa terjerat oleh perangkapnya
Kita tak perlu binasa dengan cara serupa
Kekerdilan manusia bukan alasan bagi tiap kemalangan
Sebab tali dan jerat hanya bagi sapi dan keledai
Bagi manusialah kemerdekaan dan kesempatan

Bila capung, jangkrik dan belalang bisa bicara
Mereka akan cemburu pada Sang Waktu
Karena, Waktu adalah induk yang mengerami perubahan
Anak-anaknya, mereka itulah kemajuan dan harapan
Dan itu semua bukan bagi capung, jangkrik dan belalang

Mereka dilahirkan demi debu dan tanah liat
Yang diembuskan oleh karunia besar Yang Absolut
Bagi berbiaknya kebenaran dan kebajikan
Di setiap zat yang pekat oleh Nama dan Hakikat

Adalah manusia yang mewarisi Ruh Ilahi
Cahaya tujuh bintang menyempurnakannya
Karena itu, alam pun rebah dalam kelindapannya
Gunung-gunung takluk di bawah kakinya
Maka, jika kelengkapan itu luluh karena lalis
Bagaimana manusia hendak kembali kepada-Nya?

Kehilangan demi kehilangan mungkin tak terelakkan
Kelalaian demi kelalaian mungkin ciri dari proses 
Kemalangan demi kemalangan mungkin perlu bagi iman
Namun, kehidupan bukanlah perkalian sejumlah alasan
Ada yang niscaya bagi Kasir yang Agung
Alam dan molekul pun telah terhitung
Manusia harus membayarnya dengan puncak-puncak
Dan bukan dengan lembah-lembah yang mengenaskan!


Syair Kebangkitan (10)

Sebagaimana dilakukan lumut, ganggang dan cendawan
Jawaban harus diberikan kepada
Tembok, karang dan akar yang menghujam
Sebagaimana dilakukan siput, kura-kura dan teripang
Keadaan menciptakan jalan bagi perlawanan-pertahanan

Kita akhirnya memang harus memilih
Satu di antara banyak jalan
Tempuhlah ia sebagaimana ular, kuda, kera dan kanguru melakukannya
Tentang jarak, pergilah pada semut, laba-laba, siput atau cicak

Awas,
Jangan tersesat oleh perbandingan-perbandingan
Jangan tersesat oleh kesimpulan-kesimpulan
Jangan tersesat oleh nujum dan perkiraan
Jangan tersesat oleh kecurigaan dan kesangsian
Jangan tersesat oleh ketakutan dan ketidakpastian

Kebangkitan sejati adalah kewaspadaan
Ia samudera yang menjaga kelangsungan ombak menuju pantai
Tenggelamkan diri dalam kesemestaan lautan
Rebut sayap cakrawala, tangkap denyut ombak
Tunggangi kuda angin dan berpaculah
Jangan berhenti pada pantai 
Tekan perut irama, terus pacu, pacu, pacu!
Singgah hanya di puncak
Sudah itu, lepaslah pada bintang!


Syair Kebangkitan (11)

Pengembaraan kita adalah perjalanan panjang yang menembus
Karena itu, kita tak berhenti pada batas-batas
Cabut setiap pancang dan tonggak-tonggak
Yang telah melukai langit, bumi dan lautan
Yang telah mengelabui manusia dari kearifan alam

Sudah cukup kita terkungkung oleh tanda kurung
Kini tiba saatnya untuk menyatakan kembali
Kesetiaan kepada tujuan awal penciptaan
Dan janji untuk mengembangbiakkan Cinta semata-mata

Bahwa cinta harus terus ditaburkan
Di tanah-tanah yang telah digemburkan
Kemudian Sang Waktu mencumbu dan menghamilinya

Cinta adalah Ibu bagi segala yang bertumbuh
Karena itu, batas-batas dan pengekangan harus diterabas
Itu bukan hanya perkosaan terhadap Ibu
Melainkan juga menentang Titah Alam!


Syair Kebangkitan (12)

Dengarlah halilintar yang menggetarkan langit
Cemeti api berpijar dalam gemuruh
Itulah tanda-tanda dari Pemilik langit dan bumi
Agar kita membacanya sebagai kilasan Sang Pijar

Kereta telah dilarikan kencang
Maka, bergegaslah engkau memilih jurusan
Ada saat memang, kita harus bergegas
Memacu kehidupan di jalan yang berdenyar

Sebagaimana tanda-tanda telah dibunyikan
Jangan ada lagi yang jalan menyimpang

Lengkung langit adalah payung bagi keabadian
Hujan pun tidak akan membasahi altarnya
Berkelebat di sana serpih-serpih putih cahaya
Bagai uap yang melejit oleh percik-percik listrik

Bayang-bayang pun bercermin pada kilat marmer
Jubah-jubah menyeret kerincing logam
Dedaunan menjatuhkan tetes embun pada kaca
Ada pusat pijar dalam lingkaran besar
Sinar keemasan terpancar hingga ke kaki cawan

Anggur memancar dari guci besar
Membasuh jutaan tangan yang bersembah
Dengung dan gaung bersatu padu di dalam doa
Merekalah kumpulan manusia pencari bahagia

Tuhan telah menyatukan diri bersama mereka!


Syair Kebangkitan (13)

Ajal memang pengantar kepada Cita-cita yang Agung
Namun, sebelum itu, kita berhadapan dengan magma
Magma ialah pusat yang mendenyutkan bumi kita
Ia juga menyuburkan kehidupan manusia

Karena itulah api penting bagi manusia
Dengan api segenap jiwa diantarkan pada kematangan
Kedewasaan adalah sikap waspada pada tanda-tanda
Sedang semangat adalah keharusan bagi tiap butir darah
Dengan itulah kebangkitan dinyalakan sumbunya
Bergeraklah apabila waktu telah diisyaratkan!

Perbaikan nasib bukanlah karena dijanjikan
Ia datang apabila ada dorongan pada inti jiwa
Upaya kitalah yang menentukan kemenangannya
Panji-panji dan bendera berkibarlah di tiap tiang pataka
Biarkan mereka patah oleh badai dari angkara
Bila tiba waktunya, bahkan badai ikut berpawai!

Dalam suasana yang dirajai oleh duka
Tangis bukan lagi kaum paria
Merekalah pemilik semua galangan dan semudera
Mereka jualah yang berhak atas kapal dan gelombang
Mereka ialah jiwa pelaut pembuat peta dunia

Berlayarlah o, pelaut pembuat peta!

Kita harus menyalakan tanda-tanda di pulau-pulau kemenangan
Sebagai isyarat balasan kepada kerlip bintang di pintu langit
Sebagai isyarat bahwa manusia tidak lagi hanya segumpal debu
Sebagai isyarat dari jawaban-jawaban atas persoalan kehidupan
Sebagai isyarat ke masa depan!


Syair Kebangkitan (14)

Kita berasal dari benih yang diunggulkan
Dilahirkan dengan masing-masing membawa arah
Untuk ekspedisi ke puncak-puncak
Berbekal iman, cita-cita dan akal
Sedang kehidupan dan kematian terkalung pada leher
Matahari dan bintang menjulurkan tali kekang
Siang dan malam mengisyaratkan lambang-lambang

Tapi, pengetahuan dan pengalaman justeru menyesatkan
Kemajuan mempercepat kekalahan
Kelimpahan mendatangkan keserakahan
Kenikmatan menjadi bius
Kekuasaan jadi meringkus
Sedang cinta tinggal hanya puing

Bersabarlah o, cinta yang rombeng!

Selagi penyair masih punya pojok
Cinta tidak akan dibiarkan teronggok!

Januari, 1989

Yudhistira ANM Massardi
Puisi: Syair Kebangkitan
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi

Biodata Yudhistira A.N.M. Massardi
  • Yudhistira A.N.M. Massardi (nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi) lahir pada tanggal 28 Februari 1954 di Karanganyar, Subang, Jawa Barat.
  • Yudhistira A.N.M. Massardi dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980-1990-an.

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar