Tembok-Tembok Berlumut

Tembok-tembok berlumut
Langit warna-warni sore hari
Tegak berdiri. Bongkahan dan retak
Hati-hati-jangan didepak!
Penghuninya yang dulu
Lama pergi. Kini
Silih berganti
Mak dan cucu
Ada yang bertahan
Menyapu seluas halaman
Di sudut pendopo ia menembang
Tentang kejayaan dan keputusasaan
Sudut taman
Banyak sampah dan semak
Tak ada lagi yang dulu
Yang bersih dan surnilak
Benteng hidup
Yang lain jadi pengembara
Tersebar bagai laba-laba
Di kota-kota besar
Tak tertinggal ngendon di Jakarta
Menjadi pejabat, pengusaha dan sarjana
Kebanyakan nganggur
Thpi makmur! Cendawan atau benalu
Bekicot atau lintah! Langit terasa tinggi
Kau gapai
Anyaman mendung
Tiang listrik yang karatan. Kini
Dengan takzim runduk ke bumi
Miring dibalut sobekan layang-layang

Benang-benang semrawut bergantungan
Serombongan burung-burung kecil
Bertengger di puncak
Tembok-tembok berlumut ini
Dulu aku lewat di sini
Melongok kemegahan
Runtuh
Dihapus keruwetan zaman
Pelan-pelan
tapi tetap saja: Ada
yang diam tergenang
Mandek
Mampet
Selokan. Selokan
Keturunan
Menyusuri lorong-lorong kenangan
Angkasa membias merah padam
Yang redup terus redup
Yang lain jangan diucapkan!

Solo, 1995
Puisi: Tembok-Tembok Berlumut
Puisi: Tembok-Tembok Berlumut
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Puisi Cinta Abadi

    Post A Comment:

    0 comments: