Mula Segala

Penyamaian cinta pertama meski bukan jadi
Pelaku, hanya penjelmaannya, ialah ketika Bunda
Melahirkan si Ucok ini di kebun karet Pulau Tagor,
Galang tak jauh dari Dolok Masihol gunung rindu
Dan sayang, wilayah zajirah terhampar antara dua
Sungai mengalir deras ke Selat Malaka:
Tahun seribu Sembilan ratus Sembilan belas (1919)

Kakekku sendiri, Ya Batahan Rangkuti
Masih segar dari kebun kopi runding, Mandailing
Membacakan azan di telingaku kanan dan kiri
Tanda Mualim dan laki-laki 'lah datang ke muka bumi

Haiyyaa 'ala shalaah!
Haiyyaa 'alal falaah!

Maasyaa Allah! Betapa jauh itu Rabbi
Jika dihitung dari waktu kini: Setengah abad balik
Ke zama silam! Menampil tanya dalam kalbu:
Apakah sebenarnya 'lah kucapai selamanya ini?

Suami dari seorang, yang hidupnya
Penuh kebaktian kepada Tuhan
Pengembara Pulau dan pantai tiga benua
Pengasyik Bhagavat Gita, Injil, dan Qur'an?

Pemukim di Rabwah, Chiniot dan Lahore, di tepi
Sungai Cenaab sekitar mana ummat mendirikan
Negara Bulan Bintang dan gadis-gadis Panjaab
Menjajakan jeruk merah dan delima.
Suara mereka sangsai:

Malte ane ane......!

Atapun berbulan bulan luntang-lanting di Paris
Sepanjang Sungai Seine
Tempat dara-dara ayu bermata biru meningkah gontai
Wangi Lavender dan alunan sanggul buntut kuda
Ini juga semacam falsafah eksistensi ala sarte
Dan aku berlatih bahasa Perancis
Dari seorang gadis Montmarbe

Atau ini: Menikmati rahasia senyum
Dan rindu terpedam
Dalam bibir merekah dan ajakan mata sayu
Walau akhirnya tak tercapai jua
Apa yang dihasratkan
Kecuali fatamorgana dan kecentilan syeithan

Tuhan mengabur jauh ke balik awan!

Untunglah turun karunia-Mu, Ya Allah
Menjelmakan mukjizat
Dari kandungan ayat-ayat Qur'an
Dan Tajjali Muhammad bersama
Malaikat Jibril Mikail
Hingga berghairah orang pagur ini
Menyampaikan kata-Mu
Dari Medan ke Manado
Sampai ke Jayapura di Teluk Jos Sudarso

Allahu akbar wa lillahil hamdu

Maha Jaya Engkau, Tuhan
Tak sebanding pujaku dengan karunia-Mu
Memberikan daku taman hidup yang salihah
Menuntun daku kembali ke jalan-Mu cerah

Agaknya nikmat-nikmat inipun 'lah engkau limpahkan
Karena iman dan amal ayahku jua:
Muhammad Tosib Rangkuti
Tumbuh besar di Sipirok, Angkola Tapanuli
( Sekolahnya hanya dibawah batang pisang)
Dan dalam usia 18 tahun merantau
Jalan kaki ke Deli, 'nembusi hutan-hutan belukar
Dan sarang harimau di Toba
Bersenjata tongkat, pedang dan pisau
Dan sesudah menjadi buruh pasar di Porsea

Menjadi kerani perkebunan di Marihat,
Pematang siantar kemudian entah Karena apa
Menuntut tariqat di Baja Linggai
Tempat perjumpaan dengan Bunda:
Siti Hanifah Siregar
Dan muncullah aku kelak.
Mereka beri nama menguntai
Bahrum Azaham Syah Rangkuti Pane al Paguri
Yang jika aku meningkat dewasa kupadakan pada
Kata pertama dan keempat dari gelar panjang ini.
Lebih ringkas dan tepat.
Lagipula apatah guna nama mengarah bangsawan

Dan mungkin lebih lagi dari dari siapapun jua:
Mengumandang Rahmat Tuhan
Doa malam-malam Tahadjjud yang kujalankan, sayang
Selama bertahun-tahun kulihat kau sering kali
Menangis perlahan di lapik sembahyang
Ketika aku pulang jauh malam

Tak pernah kau perlihatkan
Sikap amarah dan benci
Jika dengan takut-takut segan
Kupintakan disediakan makanan
Padahal sudah berjam-jam
Aku pesiar dan kau tinggal sendiri
Aku asyik dengan seniman-seniman di luar rumah
Dan kau menelaah Qur'an

Malah akulah yang kerap kali meringis dan kesal
Agaknya hendak menyembunyikan
Kekosongan jiwa atau batinku merasa
Syariat belum dijalankan semestinya
Asyik dengan dunia, cafeteria dan segala sesuatu

Pernah aku pulang dari Sampur suatu kali.
Hari sudah dekat fajar
Aku dan teman-teman menggila waktu itu pergi
Hidup bermain-main cinta di pantai,
Seraya melihat luar layar
Nelayan mengembung
pulang dari tengah laut mencari rezeki
aku bercerita padamu tentang Sri
Yang bernyanyi dan menari

Alunan suaranya alto serak basah
Dengan denyutan sellable Bahasa Inggris
Dan kalau ia berbicara diakhiri perlahan
Kalimatnya dengan ungkapan: “You know”?….
Bisa hati jadi berabe

Hanya satu kau katakan kepadaku
Sehabis mendengarkan apa
Yang menyayat hatimu:
Ingatkah kau pada Tuhan
Waktu bersuka-sukaan di pantai?
Takkah kau tau, suamiku, suatu kali kau 'kan
Dipanggil-Nya mempertanggungjawabkan
Perbuatanmu di dunia ini?

Hendak meletup marah aku mukaku
Berubah warna, merah. Tapi aku berkata lagi:
Jangan kau sangka aku melarang
Hanya 'ku heran juga
Mengapa kau yang sudah bertahun-tahun sembahyang
Mau bertekuk lutut di depan betina
Yang sedikit pun tak kenal Allah!?

Kepalaku serasa kena hantam gondam
Pusing rasanya menyimak kata-kata
Tepat masuk ke dalam tulang
Namun masih mau juga aku melawan
Dan membalas kata-katamu tajam
Akhirnya aku mengendalikan diri. Lebih baik diam.

Sejak malam itu, aku menjauhi diri
Dari kawan-kawan seniman
Bisa berantakan rumah tangga
Kalau nyolong-nyolong cinta diteruskan
Hidup hanya memusat pada rangkaian
Penumpukan emosi tiap-tiap hari
Sedikitpun tak ada guna lagi
Beribadah dan berbakti

Puluhan tahun kemudian
Kami pernah bertemu di tengah jalan
Ia doktoranda dan menjadi VIP
Di suatu Departemen Negara
Ia bertanya, apakah masih bercinta
Sejak bermain-main di pantai dulu
Aku menjawab:
Tetap menyala hanya kini berlainan acara

Tuhan Maha Pencipta alam semesta
Dan meluaskan kasih pengabdian
Pada yang merangkak di abu

1969
Puisi: Mula Segala
Puisi: Mula Segala
Karya: Bahrum Rangkuti

Catatan:
  • Bahrum Rangkuti lahir pada tanggal 7 Agustus 1919 di Galang, Riau.
  • Bahrum Rangkuti meninggal dunia pada tanggal 13 Agustus 1977 di Jakarta.
  • Nama lengkap beliau adalah Bahrum Azaham Syah Rangkuti Pane Al Paguri.


Baca juga: Puisi Islami tentang Guru

Post A Comment:

0 comments: