Hotel

(I)

Kita bisa berhenti dan pesan satu kamar
Kita ingin lupa kita sudah tua dan punya anak lima orang
Dinding di sini cukup tebal dan tetangga tidak akan tahu kita berpeluk dan tertawa
Kau tutup mataku dengan tanganmu supaya aku hanya merasa tidak melihat
Kembang di jembangan di atas meja terbuat dari kertas merah muda


(II)

Aku bermimpi: telah mendengar nyanyian kanak dari kampung tak berhuni
Suara tak berujud tapi hadir, tak berkata tapi berbicara
Jamahan jari tak bermuka
Kata kerja tanpa benda
Waktu bangun aku terlupa semua nada dan tertawa tak perduli
Bagaimana kau bermimpi?
Bianglala turun di pantai siang
Bukit karang menjorok ke pangku laut dan gugur batu demi batu
Semua rebah tanpa suara dan air bercahaya di bawah riang warna melengkung
Dingin pagi membuat tubuhku menggigil dan gila mencium


(III)

Di kota ini semua orang jadi asing
Masing-masing memakai topeng atau ingin tak bermuka sama sekali
Kita anak yang bersalah yang malu akan kesalahan sendiri
Padamkan lampu. Kamar ini lobang perlindungan di jaman perang dan di waktu damai jadi persembunyian bagi maling dan bagi orang tua yang ingin muda kembali
Isteriku, kau kini pacarku yang baru malam ini berdamping


(IV)

Tunggu aku di kamar ini kalau aku sedang pergi
Kalau merasa sepi bisa baca buku atau duduk di jendela melihat kehidupan lewat tak berhenti
Tapi jangan bicara dengan orang tak dikenal dan meninggalkan aku seperti dulu lagi
Jangan lekas percaya kepada orang baru datang
Petualangan menghilangkan perasaan setia. Engkau janji


(V)

Kalau langit itu biru, semua akan biru: bumi dan laut mata dan rambut, juga cinta dan kata yang terkulum di mulut
Tapi matahari telah padam sejak semalam
Dan badan kita terbaring di ranjang dalam kemelut kelam


(VI)

Kita tidak akan berbicara tentang politik atau agama
Kita berbaring saja di dalam dekat lampu kelam
–Malam begitu dingin, kau pakai selimutmu yang tebal
Dan omong-omong mengenai anak kita yang bersekolah
Tentang ketekunannya, tentang perjuangannya hendak mengerti pengetahuan kita yang dewasa
Apa yang kita tahu. Hanya setitik cahaya di atas lautan rahasia
Kita ingat orang tua, bapak dan ibu
Yang tak pernah tahu masing hati
Yang berpaling ke kubur tetap membisu
Dan kita sendiri, apa yang kita tahu
Tanganmu dingin di tanganku. Peganglah erat
Rasakanlah. Hanya ini yang kutahu. Bahwa kau ada.
Hanya itu


(VII)

Jangan kita cari tanah atau rumah
Kita tidak bisa tinggal lama
Malam kita menginap dan berangkat subuh hari
Kita anak piatu yang kehilangan bapak dan mencari
Di hotel ini kita bertemu dan di pojok jalan ke benteng tua berpaling muka
Kita akan saling lupa

1975
Puisi: Hotel
Puisi: Hotel
Karya: Subagio Sastrowardoyo

Baca juga: Puisi Kritik Sosial

Post A Comment:

0 comments: