Negeri Gagap

Aku pernah belajar menghemat kata-kata
Sedikit bicara banyak bekerja
Tapi engkau malah mengajariku
Agar menambah kata-kata
Agar bisa dikurangi
Dan sebagian dari kata-kata
Masuk ke kantong celana.

Aku pernah belajar
Untuk menambah semen dan besi
Dengan komposisi yang pasti
Agar gedung kokoh kuat berdiri
Tapi engkau malah mengajariku
Memamah semen dan besi
gedung pun ambruk dengan sendiri.

Aku pun terheran-heran
Di pagi buta banyak polisi
Menjaga jalan dan lorong gang
Ada yang menyamar jadi pedagang
Ada yang mengajakku bincang-bincang
di depan pagar
Tak lama kemudian
Sebuah rumah diketuk pintunya
Dan seseorang dengan wajah pucat pasi
Dibawa pergi
Seorang koruptor telah ditangkap
Di depan anak-anaknya, darah dagingnya sendiri
Begitu banyak hal yang terkadang terlalu
sulit untuk dipahami
Para koruptor melambaikan tangan di layar televisi
Mungkin mereka bangga merasa dirinya tak tercela
Atau jangan-jangan korupsi telah menjadi
Sebagai kisi-kisi dari sistem kerja?
Begitu banyak hal yang terlalu sulit dipahami
Begitu banyak pemahaman telah terbunuh
Dengan tikaman pisau belati menipisnya nurani
Begitu banyak jatidiri telah bunuh diri di negeri ini.

Dan air mata hanya sebagai penanda
Di atas batu nisan bernama kejujuran
Lalu di atasnya ditancapkan pohon
Berdahan kepalsuan
Berdaun kecemasan.

Pohon itu telah berkembang biak menjadi hutan
Dan kita pun tersesat gagap mencari arah pulang.

Jakarta, 2016
Puisi: Negeri Gagap
Puisi: Negeri Gagap
Karya: Bambang Widiatmoko

Baca juga: Puisi Rintihan Anak Palestina

Post A Comment:

0 comments: