Dia Lupakan Derita

Hari ke tujuh belas puasa
matahari beranjak naik
namun tak menyurutkan niat
seorang lelaki tua
menuju istana

Dia hanya ingin melihat
bendera berkibar di istana
dilihatnya bendera melambai
seolah memberi salam padanya
dengan sigap dia menghormat

“bendera bangsaku, teruslah berkibar
gemulai diterpa tiupan angin
kulihat wajah negeriku tersenyum”
dan lelaki tua itu turut senyum

Dilihatnya bendera itu memanjang
bahkan melebar menanungi orang-orang
dari sengatan terik matahari
dia menyaksikan para pejuang muda
dan barisan rakyat bergerak ke medan perang
dari balik kenangan, dia kembali tersenyum

Haus puasa tak dirasakannya
hari ini dia lupakan derita

Jakarta, 17 Agustus 2011
Puisi: Dia Lupakan Derita
Puisi: Dia Lupakan Derita
Karya: Aspar Paturusi


Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Menulis Puisi

Post A Comment:

0 comments: