Puisi: Martabat Pun Punah (Karya Aspar Paturusi)

Puisi "Martabat Pun Punah" menciptakan gambaran tentang ketidakpuasan terhadap kebijakan dan tindakan penguasa yang dianggap merugikan rakyat.
Martabat Pun Punah


kalian tak kuasa menghalangi kami
kami rindu tenteram dan damai
kami ingin pepohonan tumbuh rimbun
tak ada asap menambah gumpalan awan

kalian tak berdaya meski berbagai upaya
menggali bumi, mengikis gunung, menguras laut
menumpuk dolar, menambah gemuk rekening
kami tahu dan selalu mengamati  gerak-gerikmu

 kami juga tahu kalian tak punya  rasa malu lagi
kalian terbuai kuasa dan takluk pada nafsu  serakah
kalian hibur kami dengan serumpun janji  indah
ibarat pohon oleng oleh angin, goyah pula sikap pasrah

ketahuilah, bakal tiba saat segala tingkahmu tamat
bak gelombang tenggelamkan kapal di  tengah laut
ketika derita  kami melambung jauh hingga ke puncak
 lama sudah diingatkan: akan tiba masa rakyat bertindak

itulah hukuman buat kalian
para pemabuk bergelimang kuasa dan serakah
bukan hanya pintu terali besi,  tapi martabat pun punah
sepanjang  siang dan malam, nyanyikanlah sunyi derita


Jakarta, 3 Oktober 2012

Analisis Puisi:
Puisi "Martabat Pun Punah" karya Aspar Paturusi menggambarkan kegelisahan dan ketidakpuasan terhadap kebijakan dan tindakan penguasa yang dianggap merugikan rakyat. Dalam rangkaian kata-kata yang kuat, penyair menyuarakan ketidaksetujuan terhadap tindakan yang merusak lingkungan dan mengorbankan kesejahteraan masyarakat demi kepentingan pribadi.

Ketidakpuasan Terhadap Kebijakan dan Tindakan Penguasa: Puisi ini menggambarkan ketidakpuasan terhadap tindakan dan kebijakan penguasa yang dianggap merugikan rakyat. Penyair menyuarakan keinginan untuk hidup dalam kedamaian dan keharmonisan alam, tanpa adanya asap yang mencemari udara.

Pemberontakan Melalui Ketahanan Rakyat: Penyair menekankan bahwa rakyat tidak dapat dihalangi atau ditundukkan. Meskipun penguasa melakukan berbagai upaya, termasuk menggali bumi dan menguras laut, rakyat tetap kuat dan memiliki keinginan untuk hidup dalam damai.

Kritik Terhadap Nafsu Serakah dan Ketidakberdayaan Penguasa: Puisi mengkritik nafsu serakah penguasa yang terbuai oleh kekuasaan dan uang. Meskipun penguasa memberikan janji indah, penyair merasa bahwa itu hanyalah hiburan semu dan sikap pasrah yang rapuh.

Ancaman terhadap Penguasa yang Menyimpang: Penyair menyampaikan ancaman bahwa akan tiba saatnya segala tingkah penguasa akan tamat. Gelombang perlawanan rakyat seperti gelombang laut yang tenggelamkan kapal di tengah laut, menciptakan gambaran bahwa kebijakan yang merugikan rakyat akan mengakibatkan akhir yang tidak menguntungkan bagi penguasa.

Kehilangan Martabat: Puisi menyoroti bahwa tindakan penguasa tidak hanya mengakibatkan kehilangan kebebasan fisik (terali besi), tetapi juga kehilangan martabat. Penggunaan kata-kata "martabat pun punah" menciptakan citra kehancuran nilai-nilai moral dan kehormatan.

Panggilan untuk Bertindak: Penyair memberikan panggilan untuk bertindak kepada rakyat. Pesan ini mengisyaratkan bahwa rakyat tidak boleh hanya diam melihat ketidakadilan, tetapi harus siap untuk mengambil tindakan dan mengubah nasib mereka sendiri.

Sunyi Derita sebagai Suara Rakyat: Puisi ditutup dengan mengajak untuk menyanyikan sunyi derita. Hal ini dapat diartikan sebagai panggilan untuk memperjuangkan keadilan dan menggambarkan kehidupan yang sejati melalui suara rakyat yang bersatu.

Puisi "Martabat Pun Punah" menciptakan gambaran tentang ketidakpuasan terhadap kebijakan dan tindakan penguasa yang dianggap merugikan rakyat. Aspar Paturusi menggunakan bahasa yang kuat dan gambaran yang tajam untuk menyuarakan keprihatinan terhadap lingkungan dan keadilan sosial. Puisi ini menjadi suara rakyat yang menentang ketidakadilan dan menekankan pentingnya mempertahankan martabat dan nilai-nilai moral dalam menghadapi tindakan penguasa yang menyimpang.

Aspar Paturusi
Puisi: Martabat Pun Punah
Karya: Aspar Paturusi

Biodata Aspar Paturusi:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.