Airmata Membara

dibelit pegunungan iban dan meratus,
pohon-pohon mencari matahari tembaga,
daun-daun menghampar sebagai rabuk,
sedangkan sungai melingkar liar.

                kemarau mengantar parau
                kuala menghisap uap payau

bukit-bukit di kapuas hulu mendesah,
suara-suara unggas seperti peluru panas,
erangan chainsaw dan bulldozer bersahutan,
kayu-kayu loging menggelepar,
awan jelaga menggigil di langit berkabut,
lubang-lubang kubur menganga,
mayat-mayat tak benama melayang di rawa-rawa:
di ujung-ujung kampung, orang-orang menggali perih:
sambil menadah guyuran airmata membara.

                udara bertabur amarah
                lautan berselimut barah

kulit tanah mengelupas dengan luka menganga,
pohon-pohon bakau menggelepar nanar,
ikan-ikan menimbun bangkai televisi di perutnya,
kahayan dan lamandau menderita demam mengigau:

sambil menadah guyuran airmata membara.

2004
Puisi: Airmata Membara
Puisi: Airmata Membara
Karya: Juniarso Ridwan


Catatan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.

Post A Comment:

0 comments: