Carla dan Kunto

A

lni adalah sihir harum poplar
Pada sebuah bandara:

    Pertama sekali adalah mentari pagi
    Di dahan-dahan langit
    Musim panas

    Udara basah. Hutan mendesah. Dan birahi
    Merayap ke mana-mana

    Begitulah tatapan Kunto terkunci
    Pada tatapan Carla
    Maka seluruh bagian tubuhnya pun bergegas
        ke seluruh bagian tubuh Carla
    Seperti burung-burung flamingo bergegas
    menyerbu mata air Sahara


B

Lalu percakapan pun berlangsung
Antara ada dan tiada. Antara jaga dan lena
Dan waktu pasrah

Mereka bicara tentang The Chrysanthemum
And the Sword
    Setelah seluruh desah mereka biarkan remas
    Setelah seluruh beban mereka biarkan hempas
    Jadi runtun rintih
        yang gurih
    Dalam orkestra ragawi
        yang sempurna


C

Kemudian waktu kembali ke ambang:
"Barangkali ini hanya sekadar upacara inisiasi bagimu"
Bisik Carla terbata, sesudahnya

"Sama sekali tidak," tegas Kunto
"Retak-retak peradaban telah menyiksa kita
Dengan gelisah abadi. Dan hanya laku sanggamalah
    pembebasnya."

Lalu bagai bersambut, di pucuk-pucuk poplar
Angin pun rebak

"Kunto," bisik Carla
"Percayakah engkau pada pesan makoto?"
Kunto terhenyak. Baru kemudian dia menjawab
Suaranya menyatu dengan angin: "Mungkin ....
Sebagai orang Jawa. Tapi engkau tahu
    Aku pun tak lagi sepenuhnya Jawa."

Mereka berbaring rapat sekali. Tangan mereka
Bergenggaman. Seperti bersama mendengarkan
    Resah cemara

"Aku tahu ... ini takkan berlanjut," lirih Carla tiba-tiba

"Carla, secepat itukah kesimpulan diperlukan?" tukas
Kunto
Dan Carla menjawabnya hanya dengan tatapan

Dari sepasang matanya yang hijau bening
    melesat puluhan lembing
    dan menancap ke jantung Kunto
    memagutkan empedu pada limpanya

Lalu Carla berbicara seolah pada ketiadaan. Dengan
bergetar
    "Dapatkah kau memperkenankan aku jadi sekadar
    kanca
    Ya, sekadar kanca
    Yang setia mendengarkan setiap tuturmu
        kapan saja

    Dan mengalang setiap dukamu

    Dapatkah? Hanya antara kau dan aku?
    Betapa jauh pun jarak antara kita
        terentang."

Dan Kunto tak kuasa tak jujur
"Duhai! Takkan sanggup aku menjawab permintaanmu
sebab di awal, dahagaku hanya pada lekuk-lekuk tubuhmu."

Kata-kata itu tak pernah dia ucapkan


D

Kalakian! Siapakah pengubah randefu lepas jadi terungku
    sehingga cinta sewaktu merundung kalbu

    Siapakah yang seketika melantunkan kidung
    pada bilik-bilik rindu

    Siapakah yang membuat deretan poplar sepanjang
    telaga
    Merunduk. Di bawah tatapan Carla

  ..............

Ketika Carla mengantar Kunto ke bandara
Duka pun seakan bergayut pada deretan foliaga. Menjelma
Tetes-tetes tembaga

Yang membeku

Dan kini, di kotak telepon, usai mendarat
Pada bandara kedua. Kunto. Jauh. Sendiri
    Luruh dalam sedak

Maka seketika dukanya pun merengkuh duka Carla
Di ujung sana. Melintasi ribuan mil

Dua duka itu berhimpun menggumpal
Seperti lantun Barcarolle. Seperti toreh merkuri
    ke sumsum musim
Seperti lengking kereta-api senja
    lintas gurun
    usai rekuim

2010
Puisi: Carla dan Kunto
Puisi: Carla dan Kunto
Karya: Mochtar Pabottingi


Catatan:
  • Mochtar Pabottingi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Juli 1945.

Post A Comment:

0 comments: