Puisi: Hari yang Bergemuruh (Karya Juniarso Ridwan)

Hari yang Bergemuruh

nyonya Margho membaca surat itu sekali lagi,
halilintar menjalar di benaknya, badai pun
mendera kerongkongan. Surat itu seperti api
membakar deretan gedung, lalu arang
yang ditinggalkannya menjelma dirinya. Dalam renta,
sendiri porak-poranda.

“umur suamiku bagaikan lelehan lilin, mengalir dan
kemudian menguap, entah ke mana,” tangisnya
merambat, membasahi tanah, menghanyutkan
kenangan.

sekali ini ia menyadari, batu pun bisa diajak bicara,
pohon-pohon bisa mendengar keluhannya, dan angin
menjadi sahabat paling setia. Lolongan anjing kembali
mengingatkannya akan ladang gandum yang subur,
hamparan keju yang harum, atau gemeretaknya kayu
di perapian.

dibangunnya sebuah angan-angan, pesta penuh riang,
kopi hangat mengiringi obrolan ringan, dan semua tamu
dengan sopan saling bertegur sapa. Sambil mengelus popor
senjata, ia tersenyum getir.

“hari ini, memang perang belum usai,” gumamnya.

1999
Puisi: Hari yang Bergemuruh
Puisi: Hari yang Bergemuruh
Karya: Juniarso Ridwan


Catatan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar