Puisi: Sebuah Senja di Parigi (Karya Juniarso Ridwan)

Sebuah Senja di Parigi

kembali langit dikemas dalam keranjang, bertumpuk
dengan pakaian lusuh. Selamat tinggal kenangan;
lokan-lokan runcing dan ikan bawal yang menggelepar,
kini telah menjadi penghuni dari sebuah kalimat,
yang ditebarkan para nelayan di sepanjang pantai itu.

keringatlah yang bergulung-gulung membentur karang itu,
menghempaskan perahu dalam amukan badai yang pekat
dengan warna penderitaan.

kemudian terdengar jeritan dan bayangan-bayangan hitam,
lalu dibangun pentas maut, dengan dekorasi batang
kelapa yang saling bertumbukan. Sungai darah membelah
perkampungan menjadi kuburan bagi nama-nama yang
terkalahkan. Di beranda rumah, hanya menghampar
tangisan, seperti bunyi kumbang mengalun
menusuk hati, dan terus
mengalun menghanguskan senja.

kehidupan menjadi gumpalan batu, yang setiap saat
terpanggang jilatan api kemarahan. Udara
menjadi kubangan sunyi,
memangsa nafas-nafas renta, yang tak paham
arti sebuah dendam. Tapi
hujan itu telah mengalirkan nyeri, yang mewarnai muka
laut, membuat membuat luka di angkasa,
mengoyak hutan-hutan bakau,
menjadi serpihan-serpihan kepunahan.

kembali langit dikemas sebagai kenangan,
karena kehidupan itu telah menjadi humus,
dan masa depan tengah mencari ruang persemaian.

Pangandaran, 1997
Puisi: Sebuah Senja di Parigi
Puisi: Sebuah Senja di Parigi
Karya: Juniarso Ridwan


Catatan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar