Selalu Aku Menjelma dalam Hujan

A

Pada mulanya adalah panah-panah air
    yang menari berloncatan di atas genang
    di tabuh tambur daunan pohon-pohon pisang

Pada mulanya adalah mandi telanjang
    di deras hujan di pancuran rumah berjenjang
    di tingkah jingkrak kaki-kaki kencur
    di kitar deru liuk batang-batang nyiur

Dari desa. Aku menjelma
Dan tumbuh. Dalam hujan

B

Di kota aku hadir pada lengkung kanopi kaca
    waktu di atasnya awan berguguran
Aku hadir pada tetes-tetes gerimis saat menjelma
    sungai-sungai kecil yang saling berpacu
    di kaca jendela saat pesawat meluncur
    lepas landas
Aku hadir pada rintik di alismu yang kuseka dengan jemari
    sebelum ciuman tak terlerai
Aku hadir pada siut angin baur hujan deru jalanan
    Sebelum kasih pupus
    Diringkus desau

C

Di suatu mesin waktu. Siapakah membuka
    bendungan raksasa di angkasa. Sehingga rindu
    kembali menyiram seluruh desa
Siapakah melepas partikel-partikel masa kecil
    sehingga menyerbu berseliweran. Menyatu
    dalam limbubu. Dalam deru angin daunan
    bayang-bayang
Siapakah di sana itu. Yang kembali mandi telanjang
    di bawah pancuran rumah berjenjang

Selalu aku menjelma
Dalam hujan
Rawamangun, Jakarta, 2003
Puisi: Selalu Aku Menjelma dalam Hujan
Puisi: Selalu Aku Menjelma dalam Hujan
Karya: Mochtar Pabottingi


Catatan:
  • Mochtar Pabottingi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Juli 1945.

Baca juga: Sajak karya Djawastin Hasugian

Post A Comment:

0 comments: