Puisi: Saat-saat yang Tak Gampang dan Saat-saat yang Tak Lekas Hilang (Karya Kurnia Effendi)

Saat-saat yang Tak Gampang
dan Saat-saat yang Tak Lekas Hilang
– Ramdan  Malik

Hakikat seorang pejalan bukanlah menghitung langkah
Jejak itu mencatat kehadiranmu
Di rumah-rumah hati, di ranah-ranah sunyi
Di tempat-tempat tak terduga waktu tetap terjaga

Air mata yang mudah merembes itu
puisi tak tertulis, seperti embun yang kalis
Namun buku di rak sanubari menjadi bacaan para malaikat

Pandang matamu tembus ke segala arah:
Deretan rumah putih megah sebagai cadar kemiskinan
Tilas telapak kaki Bapa Ibrahim dalam noktah sejarah
Pesan yang tercantum pada nisan seorang demonstran
Banjir yang senantiasa turut menenggelamkan perasaan
Kekerdilan fatwa yang kehilangan akar sejarah
Cinta yang berulang kali tertampik arus kebencian

Gugur Tahun
Lagu dan syair kesukanmu, keindahan tajam sembilu
Kau membiarkan pintu dan jendela tetap terbuka
Almanak tak pernah berakhir, seperti si bijak yang tak henti
berpikir. Dan helai-helai daun terus berzikir

Di saat-saat yang tak gampang, kita berutang peruntungan
pada ketulusan sahabat, mencoba bertumpu pada iman dan
pengetahuan. “Kepercayaan pada esok dan lusa, aku suka.”
Hanya pada segenap kegelapan cahaya memiliki jati diri. Itulah
saat-saat yang tak lekas hilang.

Jakarta, 2016

Catatan:
  • “Gugur Tahun” adalah judul lagu Leo Kristi
  • “Kepercayaan pada esok dan lusa, aku suka” adalah salah satu baris lirik lagu “Marga, Souvenir Pojok Somba Opu” karya Leo Kristi
Puisi: Saat-saat yang Tak Gampang dan Saat-saat yang Tak Lekas Hilang
Puisi: Saat-saat yang Tak Gampang dan Saat-saat yang Tak Lekas Hilang
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar