Puisi: Sepasang Sepatu Tambang (Karya Wahyu Prasetya)

Sepasang Sepatu Tambang

Lelaki lelaki biasa itu meninggalkan pintu rumah sebagai kepompong
Kini, ke sudut masa kini, mereka menjelma kupu-kupu baja,
Merenangi hamparan tebing berlapis tebing matahari
Lengan lengan tangan kedua kaki jelmalah dump truk dan
Eskavator membuncah gerak ke batu-batu
Dan api terus menumpahkan panas dari setiap bahu
Batubara lava beku mematangkan puluhuna ton jelaga
Sangit nafasmu bertukar hingga kelenjar paru-paru atau jantung

Sinar siang hari masih berapi, menciptakan gumpalan debu
Penglihatan cepat kabur untuk menemukan namamu namaku
Tabir debu hidup
Tirai keemasan yang membentangkan cakrawala kebiruan
Tabir debu pada mati
Melepas derum mesin untuk membawamu pergi,
Berputar tulang besi ke tulang-tulang terjal jurang di sini
Ketika ada yang selalu tiba, selain gemuruh tubuh bergelombang
Ditempa bebatuan, senyap yang berbenturan

Kita bertemu lagi, aku dan kau relung besi atau api
Api yang menjulang dari jiwa setengah matang
Ribuan hektar bayang-bayang bertebing tebing tak sampai
Tegak di kedua sepatu tambang kita kelak akan datang
Ke pintu-pintu rumah yang jauh sekali
Tabir debu hidup
Tabir debu pada setiap hati
Setangkai bunga tumbuh di dataran besi

Gunung Timang, 2012
Puisi: Sepasang Sepatu Tambang
Puisi: Sepasang Sepatu Tambang
Karya: Wahyu Prasetya

Catatan:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar