Puisi: Surat Carok (Karya Wahyu Prasetya)

Surat Carok

99 malam kuasah celurit melebihi sorot mata kekasih
di tengah peradaban yang dijejalkan sebagai simbol lenturnya lidah
kita telah berjanji akan berjumpa di tengah purnama. bias sinar
akan melengking menahan luka. luka. luka; orang dalam dirinya

99 bacokan terhadap nasib konyol dan lambaian maut
dan seorang lelaki santun bertanya, kenapa di jaman serba
benda-benda yang menimbuni kemanusiaan masing-masing
kita segera selesai.

kematian kehidupan seperti sayatan syair dangdut ataupun
teriakan tenggorokan musik cadas.
“mengapa kita mudah mengasah celurit, belati dan membunuh?”
99 kegelapan menemukan sinar ketika dua bayangan itu roboh.
siapa yang menganggap selingkuh dan khianat tak melahirkan darah.
seperti gadis-gadis remaja yang menjadi pelanggan aborsi.
kita mati?

airmata terkaca di kedua celurit yang terlepas dari genggaman,
lalu sepi benar. tapi tajamnya akan kekal menjelma perih bagi
yang dilukai oleh tindakan sekitar.
begitu yakinnya mereka si bodoh yang saling membunuh;
akan menggelepar dan meratap pada kekuasaan dan apalagi ya.

Sampang, 1997
Puisi: Surat Carok
Puisi: Surat Carok
Karya: Wahyu Prasetya

Catatan:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar