Puisi: Tegar nan Aluih (Karya Kurnia Effendi)

Tegar nan Aluih

Seorang ayah mampu berpura-pura jadi gunung karang
Membisu di tengah gossip ombak yang rambutnya menampar-nampar seperti ujung cemeti.

Namun ia selalu kalah oleh kabar:
Dendang yang jauh dari tetabuhan berbaring dalam demam. Panas meninggi melampau buih ampas pagi.

Jarak ditisik menjadi doa yang didaras siang dan malam.
Gugus hutan bukit Barisan lepuh oleh alunan saluang
Mantra yang melata mencari tikar di rumah gadang. Sebelum tegak mendaki dengan kepak sayap burung balam.

Seorang ayah rela menghimpun dongeng pada cruk tangan yang gemetar. Sejauh ia mengembara, jiwanya terikat pada manis sari buah yang ditanamnya.
“Aku akan pulang setiap engkau memanggilku, Nak”

Sebab ia selalu galau oleh desau:
Lirih tajali dan ayat yang lolos dari surau.
Menghampiri kening gunung yang risau.

Jakarta, 2018
Puisi: Tegar nan Aluih
Puisi: Tegar nan Aluih
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar