Puisi: Di Bukit Hakone, Aku Melihatmu Lagi (Karya Handrawan Nadesul) Di Bukit Hakone Aku Melihatmu Lagi Kabut di bukit Hakone Menuntun kerinduanku Wangi bunga di mana-mana Seakan menjenguk kenangan purba Bayangan itu l…
Puisi: Aku Ingin Sekali Menangis (Karya Handrawan Nadesul) Aku Ingin Sekali Menangis Aku ingin sekali menangis. Menangis tersedu melihat benang layang-layangku meninggalkan angin. Terbang jauh. Jauh sekali en…
Puisi: Razan (Karya Helvy Tiana Rosa) Razan Razan bagaimana aku memulai kisahmu Detak rindu yang tumbuh dari bukit-bukit matamu menyeruak jauh menembus dinding pulazi, melewati perbatasan…
Puisi: Perjalanan ke Kota Tua (Karya Tjahjono Widarmanto) Perjalanan ke Kota Tua : Beo tak ada yang sudi mengabadikan perjalanan ini selain gugusan lintang, seleret bulan, hutan bakau yang run…
Puisi: Dhuafa (Karya Hasbi Burman) Dhuafa Di bawah pohon rindang, duduk bersimpuh, menikmati kuliner angin. 28 Juni 2018 Analisis Puisi : Puisi "Dhuafa" karya H…
Puisi: Sampai Kapan? (Karya A. Munandar) Sampai Kapan? Sampai kapan kau akan menunggu? Bertahan dengan doa, dengan senyuman pilu. Karena siapa tahu dia juga sedang menunggu. Jadi sa…
Puisi: Rindayu (Karya Rini Intama) Rindayu Perempuan itu bernama Rindayu yang kutemui di pelabuhan kecil Membaca isyarat dari cahaya lampu-lampu kota Aku pandangi matanya, Rindayu Pere…
Puisi: Dingin (Karya Irma Agryanti) Dingin sebab terpisah dari api mangsi jatuh di hitam mata sebab dipiuh sakal gemetar roda tergelincir karat dari tebing malam meruntuh kelabu demi ke…
Puisi: Kejahatan yang Tersembunyi (Karya Mardi Luhung) Kejahatan yang Tersembunyi Apa yang kau sembunyikan di pikiranmu. Kobar api atan sebilah pedang yang mengkilat. Atau kesal panjang yang t…
Puisi: Saudaraku Tak Sendiri (Karya Titi Widaryanti) Saudaraku Tak Sendiri Untuk saudaraku di Palu dan Donggala Kala temaram-temaram jingga mulai mencumbu bumi senja tiba dengan azan memanggil umat-Mu m…
Puisi: Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan (Karya Abinaya Ghina Jamela) Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan Aku sudah bilang, aku tidak ingin sekolah. Tapi kata Ibu, sekolah menyenangkan. Aku akan bertemu banyak teman, banyak …
Puisi: Kaluku (Karya Mariati Atkah) Kaluku sebagai batang, ia teguh bertahan dari musim yang meracau sampai kelak tubuhnya rubuh lalu tumbuh jadi tiang, lantai, dan pintu jadi meja dan …
Puisi: Lebak, 1856 (Karya Mariati Atkah) Lebak, 1856 di Lebak yang pucat, kawanan kerbau menghitung kematian yang kerap. petaka tanpa genta tak henti berderap. petaka atas nama raja-raja. ma…