Puisi: Patuhlah pada Ayah dan Ibu (Karya Muhammad Lutfi) Patuhlah pada Ayah dan Ibu Kalau mendengar perintah ayah dan ibu Segera berlari jangan menunggu Berbakti pada kaki ayah ibumu Agar surga selalu bersa…
Puisi: Aku Tidak Sanggup (Karya A. Munandar) Aku Tidak Sanggup Aku tidak sanggup bertemu karena bertemu artinya menambah kenangan lagi. Aku tidak sanggup, itu saja. 26 April…
Puisi: Rajin Berbuah Sukses (Karya Muhammad Lutfi) Rajin Berbuah Sukses Kalau engkau anak yang baik Maka berusahalah dengan tekad terbaik Membuka jalan pemikiran masa depan serta jadi yang terbaik Sol…
Puisi: Selendang Batik Ibu (Karya Amalia Najichah) Selendang Batik Ibu Kala itu, sebagai anakmu Aku tidak mengerti Apa saja yang telah kau berikan untukku Kala itu, sebagai anakmu Aku tidak tahu Apa y…
Puisi: Sajak Membaca Buku (Karya Bambang Supranoto) Sajak Membaca Buku Selalu bisa kutemukan lembar rahasia baru Yang dibisikkan huruf-huruf halaman buku Ingin bisa kunikmati kata-kata yang bermakna Ag…
Puisi: Di Bukit Hakone, Aku Melihatmu Lagi (Karya Handrawan Nadesul) Di Bukit Hakone Aku Melihatmu Lagi Kabut di bukit Hakone Menuntun kerinduanku Wangi bunga di mana-mana Seakan menjenguk kenangan purba Bayangan itu l…
Puisi: Aku Ingin Sekali Menangis (Karya Handrawan Nadesul) Aku Ingin Sekali Menangis Aku ingin sekali menangis. Menangis tersedu melihat benang layang-layangku meninggalkan angin. Terbang jauh. Jauh sekali en…
Puisi: Razan (Karya Helvy Tiana Rosa) Razan Razan bagaimana aku memulai kisahmu Detak rindu yang tumbuh dari bukit-bukit matamu menyeruak jauh menembus dinding pulazi, melewati perbatasan…
Puisi: Perjalanan ke Kota Tua (Karya Tjahjono Widarmanto) Perjalanan ke Kota Tua : Beo tak ada yang sudi mengabadikan perjalanan ini selain gugusan lintang, seleret bulan, hutan bakau yang run…
Puisi: Sampai Kapan? (Karya A. Munandar) Sampai Kapan? Sampai kapan kau akan menunggu? Bertahan dengan doa, dengan senyuman pilu. Karena siapa tahu dia juga sedang menunggu. Jadi sa…
Puisi: Rindayu (Karya Rini Intama) Rindayu Perempuan itu bernama Rindayu yang kutemui di pelabuhan kecil Membaca isyarat dari cahaya lampu-lampu kota Aku pandangi matanya, Rindayu Pere…
Puisi: Dingin (Karya Irma Agryanti) Dingin sebab terpisah dari api mangsi jatuh di hitam mata sebab dipiuh sakal gemetar roda tergelincir karat dari tebing malam meruntuh kelabu demi ke…
Puisi: Kejahatan yang Tersembunyi (Karya Mardi Luhung) Kejahatan yang Tersembunyi Apa yang kau sembunyikan di pikiranmu. Kobar api atan sebilah pedang yang mengkilat. Atau kesal panjang yang t…
Puisi: Saudaraku Tak Sendiri (Karya Titi Widaryanti) Saudaraku Tak Sendiri Untuk saudaraku di Palu dan Donggala Kala temaram-temaram jingga mulai mencumbu bumi senja tiba dengan azan memanggil umat-Mu m…