Puisi: Suasana Jakarta (Karya Susy Aminah Aziz)

Puisi "Suasana Jakarta" memprovokasi pembaca untuk merenungkan realitas sosial dan ekonomi di tengah gemerlapnya kota Jakarta. Dengan menggunakan ...
Suasana Jakarta


perut tengah kota mengalir sungai coklat tua
air hempasan curahan hujan
ciliwung bawa cerita-cerita hidup dan mati

dalam seabad lalu roda perputaran dunia
sepi jalan bak perawan berlenggang
lentiknya jari-jari seputih kertas belum terisi

kini, sesaknya nafas ditarik padatnya jalan
terkadang pingsan putus di segumpal awan
kebisingan suasana jakarta dalam kesibukan

ngeri hati, menusuk rasa pilu diri
sisa-sisa tulang kering tak berkesudahan
kere sepanjang jalan dalam pemandangan

suasana jakarta mandi cahaya gemerlapan
tak habis sejarah mencatat kemiskinan
kebobrokan dilimpah luapan memupuk kekayaan

Sumber: Tetesan Embun (1977)

Analisis Puisi:
Puisi "Suasana Jakarta" karya Susy Aminah Aziz adalah karya yang memaparkan realitas kehidupan di ibukota Indonesia, Jakarta. Melalui gambaran visual yang kuat dan bahasa yang mendalam, puisi ini menyajikan suasana kota yang penuh kontras dan kompleksitas.

Gambaran Coklat Tua Sungai Ciliwung: Penyair menggambarkan perut tengah kota dengan sungai Ciliwung yang mengalir membawa air coklat tua. Gambaran ini bisa diartikan sebagai simbol pencemaran dan kompleksitas kehidupan di pusat kota. Air sungai yang membawa cerita hidup dan mati menciptakan kontras antara kehidupan yang mengalir dan keadaan kota yang keras.

Roda Perputaran Dunia dan Kesepian: Dalam penggambaran seabad lalu, penyair menyajikan gambaran sepi jalan yang mirip dengan perawan berlenggang. Metafora ini menciptakan kontras antara masa lalu yang sepi dan damai dengan kenyataan sekarang yang penuh dengan hiruk-pikuk dan kesibukan. Lentiknya jari-jari yang seputih kertas belum terisi menciptakan gambaran ketidakpastian akan masa depan.

Sesaknya Nafas dan Kebisingan Suasana Jakarta: Penyair menggambarkan sesaknya nafas dan kebisingan suasana Jakarta yang tercermin dalam kesibukan. Gambaran pingsan putus di segumpal awan menciptakan citra ketidakstabilan dan kelelahan di tengah kesibukan. Keseharian Jakarta tercermin dalam padatnya jalan dan kebisingan, menciptakan gambaran urban yang kompleks.

Ngeri Hati dan Penderitaan: Ekspresi "ngeri hati, menusuk rasa pilu diri" menggambarkan perasaan takut dan pilu melihat realitas kehidupan di Jakarta. Gambaran sisa-sisa tulang kering tak berkesudahan dan kere sepanjang jalan menciptakan citra penderitaan dan kemiskinan yang masih ada di tengah kekayaan yang melimpah.

Cahaya Gemerlapan dan Kekayaan yang Melimpah: Puisi ditutup dengan gambaran Jakarta yang mandi cahaya gemerlapan, menciptakan kesan kemewahan. Namun, realitasnya adalah sejarah kemiskinan yang tak kunjung berakhir dan kebobrokan yang dilimpahkan dalam luapan, menciptakan kontras antara kemegahan dan penderitaan.

Puisi "Suasana Jakarta" adalah puisi yang mempersembahkan gambaran kompleks dan kontras kehidupan di ibukota Indonesia. Dengan menggunakan bahasa yang kaya dan gambaran visual yang kuat, penyair menciptakan karya yang memprovokasi pembaca untuk merenungkan realitas sosial dan ekonomi di tengah gemerlapnya kota Jakarta. Puisi ini mengundang kita untuk melihat lebih dalam dan memahami kompleksitas kehidupan di pusat kota yang seringkali terlupakan oleh kemewahan dan kehidupan perkotaan yang sibuk.

Susy Aminah Aziz
Puisi: Suasana Jakarta
Karya: Susy Aminah Aziz

Biodata Susy Aminah Aziz:
  • Susy Aminah Aziz lahir pada tanggal 24 November 1937 di Jatinegara, Jakarta.
  • Nama lengkapnya adalah Susy Aminah Aziz binti Haji Abdul Aziz bin Haji Endung Mugnie. 
  • Nama panggilannya adalah None Atau Susy. Dalam dunia sastra, sering menggunakan nama samaran Sara Ananda N.
© Sepenuhnya. All rights reserved.