Menjadi Lebah
- Dewi Nawang Wulan
Seluruh yang engkau tulis, tengadah.
Seluruh yang tengadah, rekah.
Seluruh yang rekah, menggugah.
Perkenankan kami menjadi lebah!
Bagaimana terbang lepas
Seperti makhluk paling bebas.
Berputar-putar seperti kerumunan gila belajar.
Lalu meluncur
seperti hanya akan ambil manis sarinya
menolak sepah kosongnya.
Sebelum sentuh membangkitkan,
tak perlu kiranya dituliskan.
Menyusuri jalan yang ditentukan angin
kami akan datang melupakan
pohon-pohon jauh tinggi!
Sepanjang engkau bebas dari nepsu,
dengan seluruh urat daya,
pertahankan itu tengadah rekah.
Sentuhan demi sentuhan!
Nanti yang berlagak
tak kehilangan miliknya direbut,
setelah balik ke sarang
bakal menemukan tubuhnya masih utuh kering.
Begitulah, setelah engkau pergi,
desa yang dulu memuja-muja kembang impianmu.
Menjaga matamu dari tatapan berawan puncak Slamet,
terpaksa menyembunyikan kangennya
dalam relung-relung debur air terjun musim hujan.
Tepatnya, lelaki itu tak tega mengatakan
yang mesti dikatakan,
meski engkau terseok di depannya.
Jika ia putra seorang pejuang.
Atau setidaknya pernah membuaimu dengan kisah
yang melingkari monumen-monumen kotanya,
sepanjang musim ia hanya mendengung ingin.
Berputar-putar tak kunjung hinggap.
Adakah lalu engkau rebut itu kuncup dirimu?
Kelopak-kelopak itu tak nuntut tahu,
yang terjadi barusan sebenarnya apa.
Tetapi tetap membuka,
menjaring dengung panjang
yang telah membangkitbesarkan para pejuang.
Di musim engkau kehilangan gairah,
patung-patung itu telah berdiri
dengan bambu runcing di kaki depan dan kaki belakang.
Di mata dan mulut. Di punggung dan perut.
Di sayap dan udara.
Di kata-kata dan bukan kata-kata.