Puisi: Pekabaran (Karya Mohammad Diponegoro)

Puisi: Pekabaran Karya: Mohammad Diponegoro
Pekabaran
(Puitisasi terjemahan al-Qur’an: An-Naba')

Pekabaran (1)

Ah, tentang apa mereka saling bertanya?
(Saling bertanya tentang datangnya kabar wigati
- Tentang kabar mereka masih sih-selisih
Oho! Nanti mereka bakal mengerti sendiri
Pasti mereka bakal mengerti sendiri

Tidakkah Kami jadikan bumi tempat berpijak
Gunung terhunjam jadi pasak-pasak
Dan kalian pasangan joli-sejoli
Dan waktu tidurmu tempat kalian berhenti
Dan malam-malam terbebar jadi pakaian gebar
Dan siang-siang terang jadi ruang kehidupan

Dan Kami susun kokoh di atasmu langit lapis tujuh
Dan senyala dian berbinar-binar
Dari awan Kami ruahkan air berlimpah
Lalu Kami bersilkan biji-biji dan tumbuh-tumbuhan
Dan kebun-kebun yang subur merimbun

Benarlah Hari Keputusan sudah pasti akan datang
Bila nafiri ditiup dan kalian datang berbondongan
Dan langit terbuka jadi pintu-pintu ternganga
Dan gunung berlalangan menjadi bayang-bayang

Benarlah Jahanam sudah terbuka menanti
Para pelanggar batas pada pulang kembali
Tetahunan mereka di dalamnya jadi penghuni
Tiada mengecap sejuk atau mencicip minum
Kecuali air mendidih dan getah daging
- Suatu pembalasan atas dosanya sebanding

Mereka tiada takut pada Hari Perhitungan
Mendustakan ayat Kami dengan dusta bukan terkipa-kipa
Lalu Kami rekam setiap perkara dalam buku catatan
Ah, rasai kini! Rasai!
Kami takkan menambah selain dera pada kalian!

Pekabaran (2)

Para pematuh-patih yang akan menuai hasil
- Kebun-kebun dan taman-taman anggur
Dan bida-bida muda sebaya
Dan sebuah piala kaca penuh wina
Mereka tak mendengar di sana omong kosong atau dusta

- Suatu balasan Tuhan, anugerah pada sepadan
Penyempurna langit dan buana dan segala dalam kolongnya
- Tuhan Pengasih
Tak siapa juga kuasa membuka mulut pada-Nya

Pada hari kapan Ruh bangkit
bersama malaikat banjar berderet
Semuanya bungkam

Kecuali siapa diizinkan Tuhan
Pengasih. Dan berkata tentang kebenaran
Inilah Hari sebenar Hari
Maka siapa suka, mari
kembali berlindung pada Gusti

Benarlah Kami ingatkan kalian
pada siksa hampir tiba
kapan insan jadi saksi
segala kerja tangannya sendiri
Dan berkatalah sikafir mengesah: Ah!
Semoga saja aku jadi tanah

Sumber: Siasat (31 Desember 1958)

Puisi: Pekabaran
Puisi: Pekabaran
Karya: Mohammad Diponegoro

Biodata Mohammad Diponegoro:
  • Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
  • Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.