Puisi: Dia yang Mati Dibunuh (Karya HR. Bandaharo)

Puisi "Dia yang Mati Dibunuh" membangkitkan semangat perlawanan dan memperingatkan akan bahaya penindasan. Melalui kata-kata yang kuat dan ...
Dia yang Mati Dibunuh

dia yang mati dibunuh
oleh tangan penjagal dunia
darahnya tumpah diatas pasir
dan darah ini menjadi api
menjalar membakar seluruh negeri;
afrika, asia, di semua benua
setiap hati marak, setiap kepala panas;
darah sudah tertumpah
merah warna darah rakyat.

dia yang mati dibunuh
oleh tangan penjagal dunia,
mayatnya ditangas
bumi panas dan langit panas
nyala menjadi api unggun
membangunkan rakyat dan benua;
asia-afrika bangkit serentak
berdiri menantang kematian ini
menuntut bela anak dan isteri
menuntut bela rakyat tertindas;
darah tertumpah menuntut balas
merah warna darah rakyat.

dia sudah mati
seorang ayah, seorang suami
dan seorang katolik yang percaya;
tapi darahnya merah
memerahi langit dan bumi konggo
memerahi jiwa dan juang;
tangan penjagal berlumur darah
menulis lembaran-lembaran hitam
akhir sejarah kaum penjajah;
darah tertumpah menuju menang
merah warna darah rakyat.

dia sudah mati
tapi anak dan isteri
seluruh rakyat asia-afrika
akan menyorakkan namanya
lumumba, artinya ayah dan suami
lumumba, artinya sejarah
lumumba, juang tak kenal menyerah!

Medan, Februari 1961

Sumber: Gugur Merah (2008)

Analisis Puisi:

Puisi "Dia yang Mati Dibunuh" karya HR. Bandaharo adalah sebuah karya yang menggambarkan tragedi kematian seseorang yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan dan penindasan.

Penjelasan Tragedi dan Penindasan: Puisi ini mengungkapkan tragedi kematian seseorang yang dibunuh oleh penjagal dunia, yang mewakili kebrutalan dan kekejaman penjajah atau rezim penindas. Darah yang tumpah menjadi simbol penderitaan yang dialami oleh banyak orang yang menjadi korban penindasan di berbagai belahan dunia.

Darah sebagai Simbol Perlawanan: Darah yang tumpah di atas pasir menjadi api yang menjalar dan membakar semangat perlawanan di seluruh negeri. Ini menggambarkan bagaimana kejadian tragis tersebut memicu semangat perjuangan dan kemerdekaan di kalangan rakyat yang tertindas.

Panggilan untuk Perlawanan: Puisi ini memanggil rakyat Asia-Afrika untuk bangkit dan menantang kekuatan penindasan. Kematian sang tokoh menjadi panggilan bagi mereka untuk bersatu dan melawan penjajahan serta menuntut keadilan bagi mereka yang tertindas.

Simbolisme Warna Darah: Warna merah dari darah yang tertumpah menjadi simbol kehidupan, keberanian, dan perjuangan rakyat. Darah yang merah menyala mewakili semangat perlawanan yang tidak padam di hati setiap individu yang melawan penindasan.

Penghormatan terhadap Sang Pahlawan: Meskipun sang tokoh telah tiada, namun ia tetap dihormati dan diingat oleh anak-anak dan isterinya serta seluruh rakyat Asia-Afrika. Namanya, Lumumba, menjadi lambang perjuangan dan sejarah yang tidak akan pernah pudar.

Kritik terhadap Penjajahan dan Penindasan: Puisi ini juga merupakan kritik terhadap kekejaman dan ketidakadilan rezim penjajahan yang menindas rakyatnya. Penggunaan kata-kata yang kuat dan gambaran yang intens mencerminkan kemarahan dan kekecewaan terhadap ketidakadilan yang terjadi.

Puisi "Dia yang Mati Dibunuh" adalah sebuah puisi yang membangkitkan semangat perlawanan dan memperingatkan akan bahaya penindasan. Melalui kata-kata yang kuat dan gambaran yang menggugah, HR. Bandaharo menghadirkan sebuah karya yang membangkitkan kesadaran akan pentingnya perjuangan untuk kebebasan dan keadilan.

HR. Bandaharo
Puisi: Dia yang Mati Dibunuh
Karya: HR. Bandaharo

Biodata HR. Bandaharo:
  • HR. Bandaharo (nama lengkapnya Bandaharo Harahap) lahir di Medan pada tanggal 1 Mei 1917.
  • HR. Bandaharo meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 April 1993.
  • HR. Bandaharo adalah salah satu sastrawan Angkatan Pujangga Baru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.