Jalan Rata ke Pegunungan
Tinggal engkau pelabuhan dalam isi suaramu
aku menyelam pada kota yang bernafas panas
dinama-nama jalan, di lampu-senja kelian berdiri
pandang menendang kepadaku
lupakan aku lebih jauh lagi, manis
kerna aku harus pulang ke tanah-ibu
kita berjumpa, kita berpandang memandang
tapi suaramu alit yang merobek dadaku,
kita berjumpa, daku luka, kau juga luka?
kenapa hatiku, kenapa, lekas rebah duka
di dada tiada-berdada si manis Lubukalung
di bibir-kecil tiada bergincu di leher tiada berkalung
pisang! pisang! suaramu begitu tajam lantang
lukakan aku lebih dalam lagi, manis
sekarang magrib, kau dengar di lapau saling bersipongang
pulang, dik, kerna aku juga tidak punya apapa
jangan dulu, jangan, pandang diriku kembali
derakan nafasmu nafas lemas yang rontok sengsara
tinggalkan tertancap di dadaku biar begitu lama
tapi engkau yang turun ke bumi punya nama
sedang kita berpandangan pedih dengan mesra
tinggal engkau manis, dalam kosong tadahmu
aku menyalam pada hidupmu yang bernafas lemas
suatu pertanda bahwa kitapun masih ada
tanpa mengucapkan kata-kata
terlalu banyak kata-kata,
lukakan aku lebih dalam lagi, manis
kita pulang lagi, kerna kita sama takpunya
tapi kita masih ada
Sumber: Majalah Budaya (1957)
Analisis Puisi:
Puisi "Jalan Rata ke Pegunungan" karya Motinggo Boesje menggambarkan perjalanan emosional dan spiritual yang dalam, yang dipenuhi dengan perasaan cinta, kehilangan, dan keinginan untuk kembali ke akar-akar budaya dan alam.
Tema Utama
- Perjalanan Emosional: Puisi ini menggambarkan sebuah perjalanan emosional yang penuh dengan kepedihan dan keintiman. Pencarian akan jati diri dan identitas terasa kuat melalui penggunaan bahasa yang puitis dan metaforis.
- Cinta dan Kehilangan: Hubungan antara pelaku puisi dan "manis Lubukalung" dicatat dengan intensitas emosional yang mendalam. Puisi ini mencerminkan perasaan cinta yang rumit dan kehilangan yang terjadi dalam pertemuan dan pemisahan.
- Koneksi dengan Alam dan Budaya: Puisi ini mencatat perjalanan ke tanah air dan kembali ke akar budaya. Penggambaran alam seperti "Jalan Rata ke Pegunungan" mengindikasikan keinginan untuk menghubungkan diri dengan alam yang alami dan kehidupan masyarakat yang lebih sederhana.
Gaya Bahasa dan Imaji
- Bahasa Puitis dan Metaforis: Motinggo Boesje menggunakan bahasa yang puitis dan metaforis untuk menggambarkan perasaan dan pemikiran yang dalam. Misalnya, penggunaan kata-kata seperti "suaramu begitu tajam lantang" dan "lukakan aku lebih dalam lagi, manis" menunjukkan intensitas perasaan yang dirasakan oleh pelaku puisi.
- Imaji Alam dan Budaya: Imaji alam seperti "pegunungan" dan "tanah-ibu" mencerminkan keinginan untuk kembali ke alam yang lebih murni dan terhubung dengan akar budaya. Hal ini menambahkan dimensi spiritual dan kearifan lokal dalam puisi.
Emosi dan Nuansa
Puisi ini menimbulkan nuansa kepedihan, kerinduan, dan kekuatan spiritual yang kuat. Pembaca merasakan emosi pelaku puisi yang terombang-ambing antara cinta dan kehilangan, serta keinginan untuk kembali ke asal-usul dan akar budaya.
Puisi "Jalan Rata ke Pegunungan" karya Motinggo Boesje adalah sebuah karya sastra yang mendalam dan puitis. Dengan menggunakan bahasa yang kaya akan imaji dan metafora, puisi ini berhasil menggambarkan perjalanan emosional dan spiritual pelaku puisi dalam mencari jati diri dan hubungan yang lebih dalam dengan alam dan budaya. Melalui tema cinta, kehilangan, dan koneksi dengan akar-akar budaya, Motinggo Boesje berhasil menghadirkan sebuah karya yang menggugah dan memikat perasaan pembaca, serta memberikan ruang bagi refleksi mendalam tentang makna kehidupan dan keberadaan manusia.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
