Jalan Slamet Riyadi Solo
dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah
banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus
hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan
"hei hati hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"
Solo, Mei-Juni 1991
Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Jalan Slamet Riyadi Solo" karya Wiji Thukul adalah sebuah karya sastra yang merenungkan perubahan dan perkembangan yang terjadi di Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalan utama di Kota Solo, Jawa Tengah. Puisi ini mencerminkan perasaan penulis tentang perubahan lingkungan dan kehidupan di sekitar jalan tersebut.
Nostalgia akan Masa Lalu: Penyair secara jelas merasa nostalgia terhadap masa lalu, di mana Jalan Slamet Riyadi dikelilingi oleh pohon-pohon asam besar. Masa lalu ini mengingatkannya pada momen-momen bersama teman-temannya saat berangkat ke taman Sriwedari untuk menonton gajah. Pohon-pohon asam yang tumbuh di sana menjadi bagian dari kenangan manisnya.
Perubahan Lingkungan: Puisi ini menggambarkan bagaimana perkembangan perkotaan telah mengubah Jalan Slamet Riyadi secara drastis. Holland Bakery, diskotik, taksi, dan perubahan arsitektur menciptakan kontras dengan suasana masa lalu yang lebih tenang dan hijau. Puisi ini mencerminkan realitas perubahan urbanisasi yang seringkali mengorbankan elemen alam dan keaslian kota.
Kenangan dan Perubahan: Puisi ini merenungkan bagaimana kenangan masa lalu dan perubahan yang berlangsung di Jalan Slamet Riyadi saling bertentangan. Penyair merasa nostalgia terhadap kenangan indah di tempat ini, tetapi juga menyadari bahwa perubahan tak terhindarkan. Pohon-pohon asam yang dulunya menemani perjalanan ke taman Sriwedari telah digantikan oleh bangunan-bangunan modern.
Peringatan akan Bahaya Lalu Lintas: Penyair menyebutkan kereta api sebagai salah satu elemen tetap yang masih ada di Jalan Slamet Riyadi. Namun, kereta api ini dijadikan simbol peringatan bagi pengguna jalan, terutama pengendara becak yang nekat memotong jalan. Ini mencerminkan kesadaran akan bahaya lalu lintas di kota yang semakin padat.
Puisi "Jalan Slamet Riyadi Solo" menggambarkan perasaan nostalgia dan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar jalan tersebut. Ini adalah ungkapan penyair tentang perubahan perkotaan yang kadang-kadang tak dapat dihindari. Puisi ini mengingatkan kita akan pentingnya merenungkan perubahan lingkungan dan mempertahankan kenangan akan masa lalu yang berharga.
Karya: Wiji Thukul
Biodata Wiji Thukul:
- Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
- Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
- Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
