Sebelum Pulang
gerimis itu, yang mengiris sore jadi
malam, terus mengetuk-ngetuk daun bambu di
pojok halaman. seperti mencari-cari jiwamu yang dulu
pergi bersama kemarau.
di beranda, terasa masih bersandar geraian
rambutmu pada kursi. dan gema tawamu yang disimpan
kabut, seperti dibawa laron yang datang menabrak kaca
jendela.
untuk kesedihan ini telah aku alirkan air matamu pada
sungai-sungai yang bermuara ke lautmu. juga rindu, serta
dusta mimpi tentang pertemuan yang tak terduga.
tetap tak terkenangkah kau
pada gerimis, laron, dan rasa rindu?
juga pada wangi tanah dan aroma cemara.
dan cermin!
cermin yang dulu merias kepergianmu itu,
sekarang tengah menggambar mayatku.