1996

Puisi: Linang (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Linang Hup! Satu sukukata lagi mungkin cukup membujuk hujan yang menyergap diam-diam dari mulut selat itu waktu laut meliuk jalang mengibaskan r…

Puisi: Tangan (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Tangan Runtuh. Lengking dinding dagingmu rubuh! Pelepah tangan yang kaubelah, tak melenguh, kelak Tergeletak terjangkar mencengkeram lereng …

Puisi: Selamat Tinggal (Karya Sri Hartati)

Selamat Tinggal Kami harus pergi jauh jauh sekali dari semua kenang dan puja juga bahana dari setiap derap yang sekian lama nadai deny…

Puisi: Gambar Porno di Tembok Kota (Karya Joko Pinurbo)

Gambar Porno di Tembok Kota (Untuk ASA) Tubuhnya kuyup diguyur hujan. Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam. Tapi enak saja ia nongk…

Puisi: Candidasa (Karya Acep Zamzam Noor)

Candidasa Sebuah pantai yang bersih dengan retakan-retakan Yang ditinggalkan hujan. Kami memulai ziarah Menggambar bentuk perahu di balik ka…

Puisi: Sebuah Jalan pada Siang Hari (Karya Juniarso Ridwan)

Sebuah Jalan pada Siang Hari - panorama unjukrasa ribuan kepala manusia berubah menjadi sebuah jalan yang teduh, arak-arakan pun bergerak menelusuri …

Puisi: Ketika Kereta Api Menembus Malam (Karya Juniarso Ridwan)

Ketika Kereta Api Menembus Malam bentangan rel ini mempertemukan bumi dengan malam, gerimis segera membuat sketsa di kaca jendela: daun ilalang berje…

Puisi: Nada yang Tercampak (Karya Juniarso Ridwan)

Nada yang Tercampak kita akui, kekayaan alam kita melimpah, dan dijanjikan untuk kemakmuran bersama, tapi kepada siapa kemudiaan tercurah, itu lanta…

Puisi: Ular Itu (Karya Idrus Tintin)

Ular Itu ... Tuan-tuan sekalian saya datang dan berdiri di sini untuk mengantarkan suatu kisah sebuah kesaksian tolong deng…

Puisi: Transformasi Bawah Sadar (Karya Juniarso Ridwan)

Transformasi Bawah Sadar ada yang tertinggal di sofa kereta malam, sisa batuk, khayalan dan potret buram. di batas pelupuk, gunung dan hutan menepi, …

Puisi: Aku Tak Bisa Berfikir (Karya Fikar W. Eda)

Aku Tak Bisa Berfikir Akal sehatku terjungkir aku fakir fakir fakir. Ketika engkau memulai pidato di televisi aku menyaksikan wajah n…
© Sepenuhnya. All rights reserved.