Puisi: Linang (Karya Arif Bagus Prasetyo) Linang Hup! Satu sukukata lagi mungkin cukup membujuk hujan yang menyergap diam-diam dari mulut selat itu waktu laut meliuk jalang mengibaskan r…
Puisi: Tangan (Karya Arif Bagus Prasetyo) Tangan Runtuh. Lengking dinding dagingmu rubuh! Pelepah tangan yang kaubelah, tak melenguh, kelak Tergeletak terjangkar mencengkeram lereng …
Puisi: Selamat Tinggal (Karya Sri Hartati) Selamat Tinggal Kami harus pergi jauh jauh sekali dari semua kenang dan puja juga bahana dari setiap derap yang sekian lama nadai deny…
Puisi: Gambar Porno di Tembok Kota (Karya Joko Pinurbo) Gambar Porno di Tembok Kota (Untuk ASA) Tubuhnya kuyup diguyur hujan. Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam. Tapi enak saja ia nongk…
Puisi: Candidasa (Karya Acep Zamzam Noor) Candidasa Sebuah pantai yang bersih dengan retakan-retakan Yang ditinggalkan hujan. Kami memulai ziarah Menggambar bentuk perahu di balik ka…
Puisi: Sebuah Jalan pada Siang Hari (Karya Juniarso Ridwan) Sebuah Jalan pada Siang Hari - panorama unjukrasa ribuan kepala manusia berubah menjadi sebuah jalan yang teduh, arak-arakan pun bergerak menelusuri …
Puisi: Ketika Kereta Api Menembus Malam (Karya Juniarso Ridwan) Ketika Kereta Api Menembus Malam bentangan rel ini mempertemukan bumi dengan malam, gerimis segera membuat sketsa di kaca jendela: daun ilalang berje…
Puisi: Nada yang Tercampak (Karya Juniarso Ridwan) Nada yang Tercampak kita akui, kekayaan alam kita melimpah, dan dijanjikan untuk kemakmuran bersama, tapi kepada siapa kemudiaan tercurah, itu lanta…
Puisi: Ular Itu (Karya Idrus Tintin) Ular Itu ... Tuan-tuan sekalian saya datang dan berdiri di sini untuk mengantarkan suatu kisah sebuah kesaksian tolong deng…
Puisi: Transformasi Bawah Sadar (Karya Juniarso Ridwan) Transformasi Bawah Sadar ada yang tertinggal di sofa kereta malam, sisa batuk, khayalan dan potret buram. di batas pelupuk, gunung dan hutan menepi, …
Puisi: Aku Tak Bisa Berfikir (Karya Fikar W. Eda) Aku Tak Bisa Berfikir Akal sehatku terjungkir aku fakir fakir fakir. Ketika engkau memulai pidato di televisi aku menyaksikan wajah n…