Perarakan
Perarakan itu berangkat sore hari dan rumah-rumah menutup pintunya, tetapi gumam mereka terdengar di antara serbuk bakaran menyan.
Kau yang kami iringkan usah lagi menoleh ke belakang, sebab kenangan tak akan lebih tua dari kita.
Semua akan ikhlaskan kalau kau tidak pulang malam-malam melempar segenggam tanah kuburan.
Tapi tanah yang kemersik masuk ke celah genting mengenai pelupuk mataku, sehingga terbayang kembali perarakan itu tak kunjung selesai.
