Orang Berkaca Mata
orang berkaca mata itu memandangi
patahan kubah dan puing istana
dalam peta lusuh tulisan tangan
ia tersenyum, disenyuminya nelayan
dengan perahu yang hilang amis
berkata: “segala nikmat adalah keringat
dan berkah gerak lengan”
ketika banjir datang — orang-orang
panik — ia berada di menara, katanya
terikat untuk rakyat. Debam tanggul hancur
serak orang seperti sorak
tak terdengar olehnya
ia tersenyum, mengira
dermaga sibuk dengan lelangan
dalam peta lusuh tulisan tangan
seluruhnya tinggal kenangan
"hei, kau yang terikat di menara
berhentilah menjaring kata di angkasa!"
dan ketika orang berkaca mata itu kuyup
ditelan bah, baru tahu bahwa perahu
lebih berharga dari seribu rindu
kini ia, para nelayan, dan orang-orang
sibuk menjaring kata
mengusir malapetaka
