Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang
Ketika engkau berangkat yang tinggal hanya
aroma. Di atas bendul rumah gedang – jejak cakar
ayam. Bintik-bintik kapur sirih dan secarik
kain hitam.
Aku tahu kau tidakkan kembali. Karena membangun jalan
di musim rodi. Laki-lakimu yang berurat kawat dan
bertulang besi telah dikirim. Menyudahkan jalan
di negeri ini.
“Wahai, Kepala si Talang! Banyak para istri
yang tinggal di kampung ini, boleh kau pulangi
malam hari. Sementara para suami mereka kerja rodi
di rantau orang.”
Ketika engkau berangkat kucatat dengan arang dapur
berbilang hari, berbilang bulan, kemudian berbilang tahun
engkau tidak kembali. Telah sekian musim durian masak
telah sekian musim manggis berbuah, telah sekian musim tebu
dikilang. Namun engkau tidak nampak puncak hidungmu!
Langit mengandung pelangi. Hujan rinai, hujan panas
Aku rindu padamu. Rindu burung punai kepada getah,
rindu uir-uir minta getah!
Kusilang batu telapak di halaman. Kusilang anak jenjang
setiap hari.
Kucuci destarmu dalam angin. Tidak kututup pintu bila malam
Ketika engkau berangkat yang tinggal hanya
aroma. Bau peluh lelaki yang tinggal di baju usang
Di atas bendul rumah gedang – jejak cakar
ayam. Bintik-bintik kapur sirih dan secarik
kain hitam!