Puisi: Sajak (Karya Abdul Wahid Situmeang)

Puisi "Sajak" mengajak pembaca untuk mempertimbangkan peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menciptakan perubahan positif dalam masyarakat.
Sajak


Tentu bukan kemalasan
sebab ini kemelaratan
karena kita bangsa yang rajin
foya-foya menghamburkan uang

Pun pasti bukan ketololan
sebab ini kebobrokan
karena kita bangsa yang pintar
berkaok-kaok di atas mimbar

Tentu bukan kelemahan
sebab ini kekacauan
karena kita bangsa yang berani
Bersandiwara. Menipu nurani

Pun pasti bukan kelengahan
sebab malapetaka menimpa negeri
karena bangsa yang siap siaga
Memperkaya diri. Merampok milik negara


Sumber: Horison (September, 1966)


Analisis Puisi:
Puisi "Sajak" karya Abdul Wahid Situmeang menghadirkan refleksi kritis terhadap kondisi masyarakat dan bangsa, dengan menggunakan gaya bahasa yang tajam dan provokatif. Puisi ini membawa pembaca untuk merenung tentang beberapa aspek yang mencerminkan kondisi sosial dan politik di sekitar kita.

Kemelaratan dan Kebangsaan: Puisi "Sajak" diawali dengan pernyataan bahwa kondisi yang dihadapi bukanlah kemalasan, melainkan kemelaratan. Kata-kata ini memberikan nuansa bahwa masalah yang dihadapi oleh bangsa bukan semata-mata karena keengganan bekerja keras, tetapi lebih pada kemelaratan sistem atau kondisi sosial. Puisi ini menyindir kebiasaan foya-foya dalam menghamburkan uang, yang dapat diartikan sebagai perilaku boros dan konsumerisme yang merugikan bangsa.

Ketololan dan Kebobrokan: Penyair kemudian melanjutkan dengan membahas ketololan yang disandingkan dengan kebobrokan. Dalam konteks puisi ini, kebobrokan tampaknya merujuk pada perilaku kurang etis, mungkin dalam ranah politik atau pemerintahan. Kata-kata seperti "berkaok-kaok di atas mimbar" menyoroti perilaku angkuh dan keras kepala yang dapat ditemui dalam lingkungan politik.

Kelemahan dan Kekacauan: Puisi kemudian menyentuh kelemahan yang disandingkan dengan kekacauan. "Kekacauan" dalam puisi ini tampaknya merujuk pada situasi yang tidak terkendali, mungkin dalam konteks moral atau kepemimpinan. Penggunaan kata "Bersandiwara. Menipu nurani" menciptakan citra tentang keberanian yang berlebihan dalam bersandiwara, dan tindakan manipulatif yang dapat merusak moralitas dan kejujuran.

Kelengahan dan Malapetaka: Puisi melibatkan kelengahan yang disandingkan dengan malapetaka. Kelengahan di sini dapat diartikan sebagai sikap acuh tak acuh terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa. Penyair menyebutkan bahwa malapetaka menimpa negeri, dan kemudian menyatakan bahwa itu disebabkan oleh bangsa yang "siap siaga Memperkaya diri. Merampok milik negara." Puisi ini menyuarakan keprihatinan terhadap tindakan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan negara.

Puisi "Sajak" karya Abdul Wahid Situmeang memberikan gambaran pahit tentang beberapa masalah sosial dan politik di dalam masyarakat. Dengan menggunakan kata-kata yang tajam dan jelas, puisi ini membangkitkan rasa kesadaran terhadap keadaan yang memerlukan perubahan. Puisi ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menciptakan perubahan positif dalam masyarakat.

Puisi Abdul Wahid Situmeang
Puisi: Sajak
Karya: Abdul Wahid Situmeang

Biodata Abdul Wahid Situmeang:
  • Abdul Wahid Situmeang lahir pada tanggal 22 Juni 1936 di Sibolga, Tapanuli Selatan.
  • Abdul Wahid Situmeang adalah salah satu sastrawan angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.