Gunjing
Selalu kau bicara hidup bercermin air kulah
Datar jalan ke surau baginya hidup tak mengalah
Sebelum adzan bergema dari menara Mesjid kita
Kita sudah bekerja dan ingin mengenang cipta
Sebelum kita jadi tua untuk bertaubat, kenanglah
Perpisahan yang pernah dimengerti, buanglah
Jabat tanganku, sebab tersedu ini tiap kali datangnya
Angin senja reda makin mengirai rambut putihnya
Mengapa kita berjabatan tangan dalam kehidupan ini, manis
Kehidupan yang tak lagi tenggang-menenggang, sinis
Menapak kedukaan di bukit terjal kampung-halaman
Rumah gedang. Mesjid dan surau berjejeran
Limbubu terbangkan debu di sini
Ayuhlah! Kita berangkat dengan dada berat dinihari
Berkelana adalah ikan dan air tak berpisah
Harapan adalah rumah kita yang belum sudah