Puisi: Taman (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Taman” karya Gunoto Saparie menyampaikan pesan bahwa seseorang perlu menyadari hal-hal yang mungkin telah hilang atau terlupakan dalam ...
Taman

kaukah itu menyendiri di taman
duduk di bangku panjang berlumut
beberapa ekor burung hinggap di dahan
beberapa ekor capung menembus kabut

kaukah itu bersenandung dalam sepi
melemparkan remah-remah roti ke bumi
angin pun risau mengertap di dedaunan
kaukah itu alpa dan abai pada lingkungan

tapi kau tak tahu, ada yang tertinggal
selalu terlupa, tergeletak begitu saja
tapi kau tahu, ada yang tanggal
hati, mungkin juga jantung, terluka...

2020

Analisis Puisi:

Puisi “Taman” karya Gunoto Saparie menggambarkan seseorang yang sedang menyendiri di sebuah taman. Dengan latar bangku panjang yang berlumut, burung, capung, kabut, dedaunan, dan angin, puisi ini menghadirkan suasana yang tampak sederhana, tetapi menyimpan persoalan batin yang cukup dalam.

Penyair tidak menyampaikan perasaan tokoh secara langsung. Sebaliknya, keadaan taman dan berbagai unsur alam digunakan sebagai sarana untuk menggambarkan kesunyian, keterasingan, kelalaian, serta luka yang tersembunyi. Karena itu, puisi ini dapat dibaca bukan hanya sebagai gambaran seseorang yang berada di taman, tetapi juga sebagai refleksi mengenai hubungan manusia dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesendirian, keterasingan, dan luka batin yang tersembunyi. Sejak awal, penyair menggunakan pertanyaan, “kaukah itu menyendiri di taman”. Kata “menyendiri” langsung memperlihatkan keadaan tokoh yang berada dalam kesunyian. Namun, kesendirian tersebut bukan sekadar keadaan fisik. Pada bagian akhir, muncul petunjuk bahwa tokoh tersebut menyimpan sesuatu yang lebih dalam:

“hati, mungkin juga jantung, terluka...”

Ungkapan tersebut menunjukkan adanya luka yang bersifat emosional. Dengan demikian, taman dalam puisi bukan sekadar tempat berlangsungnya peristiwa, melainkan ruang yang menjadi latar bagi pergulatan batin seseorang.

Selain persoalan batin, puisi juga bercerita tentang hubungan manusia dengan lingkungan. Hal ini terlihat dari pertanyaan:

“kaukah itu alpa dan abai pada lingkungan”

Dengan demikian, tema puisi dapat dipahami melalui dua lapisan: kesunyian dan luka batin manusia, serta sikap manusia terhadap lingkungan di sekitarnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini tidak disampaikan secara gamblang. Pembaca perlu memperhatikan hubungan antara taman, kesendirian, lingkungan, dan luka pada bagian akhir.

Taman dapat dimaknai sebagai gambaran kehidupan. Di dalamnya terdapat burung, capung, dedaunan, angin, kabut, dan manusia. Semuanya berada dalam satu lingkungan, tetapi tokoh dalam puisi justru tampak terasing dari lingkungan tersebut.

Hal ini terlihat dalam baris:

“kaukah itu alpa dan abai pada lingkungan”

Kata “alpa” dan “abai” mengandung makna kelalaian atau ketidakpedulian. Tokoh seolah berada di tengah kehidupan, tetapi tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.

Pada bagian akhir, makna tersebut berkembang menjadi persoalan batin. Sesuatu telah “tertinggal” dan “terlupa”, sementara hati atau jantung digambarkan terluka. Ini dapat ditafsirkan sebagai gambaran seseorang yang kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya, baik berupa kenangan, hubungan, kepedulian, maupun bagian dari dirinya sendiri.

Dengan demikian, puisi ini dapat dimaknai sebagai refleksi tentang kesendirian manusia, kelalaian terhadap lingkungan, dan luka batin yang sering tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk lebih peka terhadap lingkungan, keadaan sekitar, dan kondisi batin diri sendiri.

Manusia terkadang berada di tengah lingkungan yang penuh dengan kehidupan, tetapi justru tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Kritik terhadap sikap tersebut tampak jelas melalui ungkapan:

“alpa dan abai pada lingkungan”

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa seseorang perlu menyadari hal-hal yang mungkin telah hilang atau terlupakan dalam hidupnya. Luka batin tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang dapat tampak tenang atau bahkan bersenandung dalam kesendirian, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan yang mendalam.

Karena itu, salah satu pesan penting puisi ini adalah jangan sampai manusia kehilangan kepekaan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap dirinya sendiri.

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Taman
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.