Sajak-Sajak tentang Seorang Ibu
yang Ditelantarkan Anak-anaknya
(1)
Anak-anakku pergi,
Menelantarkan dapur, sumur,
ruang tamu, telapak kaki, dan doa.
(2)
Masih menyala-nyala wajahnya di dinding rumah ini,
Masih terdengar suaranya sampai saat ini di sini,
Masih terlihat jelas bayang-bayang mereka berjalan ke sana kemari,
Masih terpahat doa-doa mereka di langit-langit rumah, melengking sampai ke Tuhan.
(3)
Anak-anakku barangkali lupa surga ada di telapak kaki ibu,
Rahim meronta-ronta merindukannya pulang meski dengan api yang berkobar-kobar di kepala, meski dengan lidah yang berapi-api, meski dengan pedang di tangan.
(4)
Doaku kini menjelma sungai yang mengalir, lumut, dan pohon beringin,
Menegaskan hubungan antara anak-anakku dan surga,
Pelan-pelan membebaskan mereka dari neraka yang detik demi detik melahap mereka.
Ledalero, 15/02/2022
Analisis Puisi:
Puisi ini menghadirkan gambaran yang kuat tentang penderitaan seorang ibu yang ditinggalkan oleh anak-anaknya. Melalui penggunaan bahasa yang kaya dengan metafora dan simbol, penyair menggambarkan rasa kehilangan, kesepian, dan doa yang terus-menerus memohon agar anak-anaknya kembali.
Rasa Kehilangan dan Kesepian: Penyair dengan lugas menggambarkan kepergian anak-anaknya sebagai meninggalkan segala aspek kehidupan sehari-hari yang biasa terjadi di rumah. Dapur, sumur, dan ruang tamu tidak lagi terisi dengan kehadiran dan keceriaan anak-anak, meninggalkan ibu dalam kesendirian yang menyedihkan.
Kehadiran yang Abadi: Meskipun anak-anaknya telah pergi, kehadiran mereka masih sangat terasa dalam ingatan ibu. Wajah, suara, dan bayangan mereka masih melekat kuat di rumah dan di hati ibu. Bahkan doa-doa yang mereka panjatkan masih menggema di langit-langit rumah, mengikat mereka dengan ibu dalam kebersamaan spiritual.
Keinginan Penuh Cinta: Ibu merindukan kembali anak-anaknya ke pangkuan dan pelukan, meskipun mungkin mereka telah melupakan kehangatan rumah dan cinta ibu. Metafora tentang surga yang ada di telapak kaki ibu mencerminkan keinginan ibu untuk melindungi dan mengasuh anak-anaknya dengan penuh cinta, bahkan jika itu berarti menghadapi kesulitan dan penderitaan.
Doa yang Mencurah: Doa ibu tidak pernah berhenti meskipun ia sendiri mengalami penderitaan. Doa-doa itu menjadi sungai yang mengalir, menghubungkan anak-anaknya dengan surga dan membebaskan mereka dari kesengsaraan yang mereka alami. Dalam kekuatan doanya, ibu menemukan kedamaian dan kekuatan untuk terus berjuang.
Puisi ini merupakan sebuah refleksi tentang penderitaan seorang ibu yang ditinggalkan oleh anak-anaknya. Dengan bahasa yang kuat dan penuh emosi, penyair menggambarkan kehilangan, kesepian, dan keinginan ibu untuk mempertahankan hubungan spiritual dengan anak-anaknya melalui doa-doa yang terus-menerus. Ini adalah sebuah penghormatan terhadap kekuatan dan cinta seorang ibu yang tidak pernah surut, meskipun dihadapkan pada penderitaan yang mendalam.
Puisi: Sajak-Sajak tentang Seorang Ibu yang Ditelantarkan Anak-anaknya
Karya: Melki Deni
Biodata Melki Deni:
- Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
- Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
- Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).