Puisi: Batuk-Mu Masih Bergema (Karya Rayani Sriwidodo)

Puisi "Batuk-Mu Masih Bergema" merangkum dalam dirinya tema tentang ketidaksempurnaan manusia dalam mencari dan menjalin hubungan dengan Tuhan.
Batuk-Mu Masih Bergema

batuk-Mu masih bergema
ketika doaku tergayut-gayut
                    di bianglala
ketukku masih merenggangkan pintu syorga
                mendesak-Mu
            membenah ungkapan
        dalam
menunda

tapi
    setelah berkali
        kecewa adalah
            tersingkapnya makna
kenikmatan lain
saat mengunyah daging
cinta yang fana

1969

Sumber: Horison (Februari, 1974)

Analisis Puisi:
Puisi "Batuk-Mu Masih Bergema" karya Rayani Sriwidodo mengeksplorasi tema ketidaksempurnaan manusia dalam mencari hubungan dengan Tuhan. Dengan menggambarkan hubungan yang kompleks antara pencarian spiritualitas dan realitas kehidupan sehari-hari, penyair menyampaikan pesan tentang keindahan yang muncul dari ketidaksempurnaan.

Batuk-Mu yang Bergema: Puisi dibuka dengan gambaran batuk Tuhan yang masih bergema. Metafora ini mungkin mencerminkan respons Tuhan terhadap doa-doanya, seolah Tuhan meresapi setiap ungkapan yang dinyatakannya.

Doa yang Tergayut-Gayut: Doa yang "tergayut-gayut" menciptakan gambaran kebingungan atau keunsikan dalam hubungan spiritual manusia dengan Tuhan. Ungkapan ini menggambarkan kerapuhan manusia dalam menyampaikan doa dan kebutuhannya.

Pintu Syurga yang Dirangkakkan: Ketika penyair menyebutkan ketuk yang "merenggangkan pintu syurga," ini bisa diartikan sebagai usaha keras untuk mendekati Tuhan, meskipun dengan segala ketidaksempurnaan. Metafora ini menciptakan citra seseorang yang tekun dan tulus dalam mencari hubungan dengan Tuhan.

Membenahi Ungkapan Dalam: Keinginan untuk "membenahi ungkapan dalam" menggambarkan kesadaran penyair akan keterbatasan kata-kata manusia dalam menciptakan ungkapan yang memadai untuk menyampaikan perasaan kepada Tuhan.

Mengunyah Daging Cinta yang Fana: Pada bagian akhir puisi, penyair menghadirkan gambaran "mengunyah daging cinta yang fana." Ini mungkin menggambarkan kenikmatan dan keindahan yang dapat ditemukan dalam hubungan manusia yang penuh ketidaksempurnaan, sekaligus menggambarkan kenikmatan duniawi yang bersifat sementara.

Kecewa sebagai Penyingkapan Makna: Pernyataan bahwa "kecewa adalah tersingkapnya makna" menyiratkan bahwa kekecewaan dapat membawa pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan hubungan dengan Tuhan. Kekecewaan dianggap sebagai sarana untuk mengungkapkan makna yang lebih dalam.

Hubungan Manusia dengan Tuhan yang Kompleks: Puisi secara keseluruhan menciptakan gambaran hubungan yang kompleks antara manusia dan Tuhan. Ketidaksempurnaan, kecewa, dan upaya untuk mendekati Tuhan dengan pintu syurga yang dirangkakkan merangkum realitas hubungan spiritual yang selalu dalam proses dan penuh dengan ketidakpastian.

Kenikmatan dalam Keterhubungan yang Fana: Pernyataan tentang kenikmatan dalam mengunyah "daging cinta yang fana" mengajak pembaca untuk melihat kebahagiaan dan keindahan dalam hubungan manusia yang bersifat sementara di dunia ini.

Puisi "Batuk-Mu Masih Bergema" merangkum dalam dirinya tema tentang ketidaksempurnaan manusia dalam mencari dan menjalin hubungan dengan Tuhan. Penyair membawa pembaca melalui perjalanan spiritual yang penuh kebingungan dan kecewa, namun juga merangkum keindahan dan kenikmatan dalam hubungan yang fana. Melalui bahasa yang simbolis dan metaforis, puisi ini merangkum keterhubungan yang kompleks dan penuh nuansa.

Rayani Sriwidodo
Puisi: Batuk-Mu Masih Bergema
Karya: Rayani Sriwidodo

Biodata Rayani Sriwidodo:
  • Rayani Lubis lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada tanggal 6 November 1946.
  • Rayani Lubis meniadakan marga di belakang nama setelah menikah dengan pelukis Sriwidodo pada tahun 1969 dan menambahkan nama suaminya di belakang namanya sehingga menjadi Rayani Sriwidodo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.