Ia Namakan Dirinya Maut
Akulah yang bernama maut. Aku: itulah hidup.
Jiwa adalah aku. Aku juga raga itu sendiri, nafas dan darah.
Namaku juga adalah semangat dan nafsu.
Tapi derita dan kerja
selalu menyertaiku.
Tiada selembar pun batas
antara aku dan maut.
Maut dan aku; aku dan maut
satu adanya.
Ia namakan dirinya: maut
Membayang di muka. Kala senja.
Meremang gelap, tapi nyata wujudnya.
Bukannya tak kukenal dia
tapi memang sudah lama kulupa
wajahnya. Seribu detik seribu rupa
Berganti warna dan wujud;
itulah maut.
Datanglah padaku, katanya selalu.
Janganlah takut. Yang takut pada maut
itu kerdil jiwanya, ia pun tertawa.
Yang menjauhi maut
sudah lama tak kenal dirinya sendiri
Hadirlah depanku, serunya.
Dan ia pun segera berlalu,
sebab tak seorang pun mau.
Ia namakan dirinya: maut.
Antara maut dan aku bukan lagi seteru
Aku sirna bersama maut,
aku ada karena maut.
Dan kala berhampiranlah daku dengannya,
aku bukan lagi aku,
sebab puncak percintaanku dengan maut
adalah cintaku pada hidup.
Kulepas cium rindu bernafsu di bibirnya;
dan ia sebut diriku:
maut.
1969
