Puisi: Ketika Itu Remang Pagi (Karya Rayani Sriwidodo)

Puisi "Ketika Itu Remang Pagi" mengajak pembaca untuk merenung tentang pencarian makna hidup dan perjalanan pribadi melalui gambaran remang pagi.
Ketika Itu Remang Pagi

ketika itu remang pagi, kehidupan masih
        mendekap di tiang-tiang sepi
sebelum ada yang mungkin menertawakan
kau jalan tergesa
    menating keping jasadmu, benda duniawi
yang rapuh di bawah kelaziman tapi misteri
    aku melengos
    dari balik segala epos
    cari jawabnya

dinding waktu makin mendesak
kita melingkar kayak ular atau
buru-buru membujuk tuhan ke balik kekuatan rohani
    sesungguhnya, ya sesungguhnya
    kita menyenangi remang pagi
    sifat sembunyi-pencuri matahari

Sumber: Horison (Mei, 1969)

Analisis Puisi:
Puisi "Ketika Itu Remang Pagi" karya Rayani Sriwidodo adalah sebuah karya yang menciptakan gambaran atmosfer remang pagi untuk merenungkan kehidupan, waktu, dan pencarian makna. Puisi ini memadukan elemen kegelapan dan cahaya untuk menggambarkan perjalanan manusia dalam meretas kegelapan dan menemukan cahaya.

Atmosfer Remang Pagi sebagai Latar: Puisi ini dibuka dengan atmosfer "ketika itu remang pagi," menciptakan latar belakang yang tenang, namun sarat akan potensi perubahan. Remang pagi menjadi metafora untuk fase awal dalam perjalanan kehidupan atau pencarian makna.

Kehidupan yang Mendekap di Tiang-Tiang Sepi: Deskripsi kehidupan yang "mendekap di tiang-tiang sepi" memberikan gambaran tentang kesendirian dan perasaan terbatas yang mungkin dialami oleh individu. Ini menciptakan suasana introspektif yang menuntun pada pencarian makna lebih dalam.

Jalan Gesa Menating Keping Jasad Dunia: Gambaran "jalan tergesa menating keping jasadmu" menciptakan citra perjalanan yang cepat dan terfokus, seperti individu yang sedang mencari dan menyentuh berbagai aspek kehidupan yang bersifat duniawi.

Pergulatan Mencari Jawaban di Balik Epos: Penyair menggambarkan perasaannya yang melengos dari balik "segala epos" untuk mencari jawaban. Epos mungkin merujuk pada kisah besar kehidupan atau warisan budaya, dan melengos dapat diartikan sebagai sikap kritis terhadap norma dan ekspektasi.

Dinding Waktu dan Lingkaran Hidup yang Menyesakkan: "Dinding waktu makin mendesak" menggambarkan perasaan tertekan oleh keterbatasan waktu. Metafora "kita melingkar kayak ular atau buru-buru membujuk Tuhan" menunjukkan perjalanan hidup yang berputar dan upaya untuk merayu atau memahami aspek spiritual.

Pencarian Makna dalam Remang Pagi: "Sesungguhnya, kita menyenangi remang pagi" menegaskan bahwa, meskipun melibatkan perjalanan yang sulit, manusia pada dasarnya menyukai pencarian makna. "Sifat sembunyi-pencuri matahari" menggambarkan aspek misterius dan keindahan dalam mencari dan menemukan pencerahan.

Bahasa Simbolis dan Kiasan yang Kuat: Penggunaan bahasa simbolis dan kiasan menciptakan lapisan makna yang mendalam dalam puisi ini. Keping jasad dunia, melengos dari balik epos, dan dinding waktu adalah metafora yang merangsang imajinasi dan pemahaman pembaca.

Puisi "Ketika Itu Remang Pagi" mengajak pembaca untuk merenung tentang pencarian makna hidup dan perjalanan pribadi melalui gambaran remang pagi. Rayani Sriwidodo berhasil menggambarkan kegelapan dan cahaya, pengalaman dan pencarian, dalam suatu keseimbangan yang kompleks. Puisi ini menjadi panggilan untuk memahami keindahan dalam pencarian makna dan eksistensi manusia.

Rayani Sriwidodo
Puisi: Ketika Itu Remang Pagi
Karya: Rayani Sriwidodo

Biodata Rayani Sriwidodo:
  • Rayani Lubis lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada tanggal 6 November 1946.
  • Rayani Lubis meniadakan marga di belakang nama setelah menikah dengan pelukis Sriwidodo pada tahun 1969 dan menambahkan nama suaminya di belakang namanya sehingga menjadi Rayani Sriwidodo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.