Puisi Rayani Sriwidodo

Puisi: Jakarta Itu (Karya Rayani Sriwidodo)

Jakarta Itu labah-labah di dahan         menenun jebakan                 kuluman senyum                         seraya menerkam 1979 Sumber: Selendan…

Puisi: Pasar Minggu, Mei 1998 (Karya Rayani Sriwidodo)

Pasar Minggu, Mei 1998 Lewat jendela kamar kulihat Pasar Minggu limbung tercekik asap membubung Aku baru keluar dari BNI jalanan mirip tali nilon, te…

Puisi: Pokok Murbei (Karya Rayani Sriwidodo)

Pokok Murbei Pokok murbei terangguk-angguk di halaman Sesosok kelam di bidang datar berada Menyilang bayang murbei ke semak-semak pisang Hanya gema K…

Puisi: Lelaki Itu Turun di Sebuah Stasiun (Karya Rayani Sriwidodo)

Lelaki Itu Turun di Sebuah Stasiun menghilang bagai embun                 pungung             deresi terakhir         di hadapan     jalan menganga  …

Puisi: Kudengar yang Tidak Mereka Dengar (Karya Rayani Sriwidodo)

Kudengar yang Tidak Mereka Dengar Kudengar yang tidak mereka dengar akar rambut, bulu-bulu bergetar gumamku: agaknya demikianlah bermulanya percakapa…

Puisi: Laut dan Langit (Karya Rayani Sriwidodo)

Laut dan Langit akulah laut di pundak ombak camar mari berpagut Kaulah langit atap melengkung menaungi jambul bukit antara Kau dan aku berambulan des…

Puisi: Bacalah Pohon (Karya Rayani Sriwidodo)

Bacalah Pohon Di permukaan tanah seperti apa pun begitu serasi ia dengan sekitarnya karena arifnya pada hukum alam Angin mengelus, menamparnya mataha…

Puisi: Apa Kabarmu Sang Kebebasan? (Karya Rayani Sriwidodo)

Apa Kabarmu Sang Kebebasan? Sehelai daun melayang dari dahan penghujung kutahan nafasku, kuawasi gemetar tubuhnya menjelang rubuh ke bumi, kesan. dem…

Puisi: Menjulang Engkau (Karya Rayani Sriwidodo)

Menjulang Engkau seperti buku yang tak habis juga terbaca luput dari cakaran angin, purba dalam menganga berloncatan huruf-Mu, menyembelawa dari jala…

Puisi: Pelangi (Karya Rayani Sriwidodo)

Pelangi - dalam bahasa pelangi merah adalah         hijau yang kuning birunya nah, jangan tutup, nak, buru-buru kalam peradaban di mejamu baca kembal…

Puisi: Sahabat (Karya Rayani Sriwidodo)

Sahabat yang meletakkan hatinya         hati-hati                 di hatiku yang kutanggap rianya         setulus rindu                 dan kupaham d…

Puisi: Batuk-Mu Masih Bergema (Karya Rayani Sriwidodo)

Batuk-Mu Masih Bergema batuk-Mu masih bergema ketika doaku tergayut-gayut                     di bianglala ketukku masih merenggangkan pintu syorga  …

Puisi: Di Liku Gang, Malam-Malam (Karya Rayani Sriwidodo)

Di Liku Gang, Malam-Malam ketika senyap menyergap malam merayap - mencari pagi di liku gang suara apa         ke detak langkah pelahan         berdet…

Puisi: Sementara Sepi (Karya Rayani Sriwidodo)

Sementara Sepi pokok murbai terangguk-angguk di halaman sesosok kelam di bidang datar beranda menyilang bayang murbai ke semak-semak pisang     hanya…

Puisi: Ketika Itu Remang Pagi (Karya Rayani Sriwidodo)

Ketika Itu Remang Pagi ketika itu remang pagi, kehidupan masih         mendekap di tiang-tiang sepi sebelum ada yang mungkin menertawakan kau jalan t…
© Sepenuhnya. All rights reserved.