Puisi: Menjulang Engkau (Karya Rayani Sriwidodo)

Puisi "Menjulang Engkau" menggambarkan perjalanan mendalam dalam mencari kehadiran Tuhan. Dengan penggunaan bahasa puitis dan simbolisme yang kaya, ..
Menjulang Engkau

seperti buku yang tak habis juga terbaca
luput dari cakaran angin, purba dalam menganga
berloncatan huruf-Mu, menyembelawa
dari jala jemari yang mau menjamah

seperti bisu
seperti lugu
seperti tugu
menjulang Engkau
menyelam awan, membawa angkasa
mengangkasa, laik kuman aku menjalarinya

yang menjauh sementara mendekat
yang berahasia sementara jubah kurnia-Nya Dia singkap
membiarkanku berkata-kata sendiri
menundukkanku: membaca diri

1970

Sumber: Horison (Februari, 1974)

Analisis Puisi:
Puisi "Menjulang Engkau" karya Rayani Sriwidodo menghadirkan suatu pengalaman rohaniah yang mendalam, menciptakan gambaran tentang perjumpaan diri dengan yang Ilahi. Dengan bahasa yang puitis, penyair mengeksplorasi dimensi spiritual dan perasaan keterhubungan dengan keagungan Tuhan.

Metafora Buku yang Tak Habis Terbaca: Puisi dibuka dengan metafora buku yang tak habis terbaca. Ini dapat diartikan sebagai perjalanan spiritual yang tak pernah berakhir, seperti buku yang selalu ada halaman baru untuk dijelajahi. Buku yang "luput dari cakaran angin" menciptakan citra keabadian dan keagungan.

Loncatan Huruf-Mu dan Jala Jemari: Dengan menggambarkan loncatan huruf-Mu dan jala jemari yang menjamah, penyair menciptakan citra aktivitas mencari makna dan kehadiran Ilahi. Huruf-huruf yang "berloncatan" menciptakan gambaran kehidupan rohaniah yang dinamis dan terus bergerak.

Simbolisme "Seperti Bisu, Seperti Lugu, Seperti Tugu": Penyair menggunakan simbolisme untuk menggambarkan perasaan ketika berhadapan dengan Yang Ilahi. "Seperti bisu" dapat diartikan sebagai kesunyian dalam kekaguman dan tak terucapnya kata-kata. "Seperti lugu" menciptakan citra kepolosan dan ketundukan. "Seperti tugu" menghadirkan gambaran keteguhan dan kemegahan yang terpatri di hati.

Menjulang Engkau dan Menyelam Awan: Puisi menggambarkan perjalanan rohaniah yang menjulang dan menyelam, menciptakan kesan keterhubungan dengan Tuhan. "Menjulang Engkau" menciptakan citra ketinggian spiritual, sementara "menyelam awan" menggambarkan perasaan melibas batas dan mendekati keagungan Ilahi.

Mengangkasa dan Menjalarinya: Penyair menggunakan kata "mengangkasa" untuk menciptakan gambaran terbang dan merangkak, menunjukkan pengalaman mendalam dalam mencari Tuhan. "Laik kuman aku menjalarinya" menciptakan gambaran kerendahan hati dan kesadaran akan kecilnya diri di hadapan keagungan Tuhan.

Perubahan Jarak dan Rahasia yang Terbongkar: Puisi menciptakan kontras antara yang menjauh dan mendekat, menunjukkan dinamika hubungan spiritual. "Yang menjauh sementara mendekat" menciptakan gambaran perubahan jarak dalam kehadiran Ilahi. "Yang berahasia sementara jubah kurnia-Nya Dia singkap" menciptakan citra rahasia yang terbongkar dan pencerahan yang diberikan oleh Tuhan.

Membaca Diri dan Menundukkanku: Dengan mengakhiri puisi dengan kata-kata "membaca diri" dan "menundukkanku," penyair menyampaikan konsep introspeksi dan kerendahan hati. Membaca diri dapat diartikan sebagai pemahaman diri yang mendalam, sedangkan "menundukkanku" menciptakan citra penghormatan dan pengakuan akan kebesaran Tuhan.

Puisi "Menjulang Engkau" adalah persembahan spiritual yang menggambarkan perjalanan mendalam dalam mencari kehadiran Tuhan. Dengan penggunaan bahasa puitis dan simbolisme yang kaya, penyair berhasil menyampaikan pengalaman rohaniah yang bersifat universal dan mengajak pembaca untuk merenung tentang keterhubungan dengan Yang Ilahi.

Rayani Sriwidodo
Puisi: Menjulang Engkau
Karya: Rayani Sriwidodo

Biodata Rayani Sriwidodo:
  • Rayani Lubis lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada tanggal 6 November 1946.
  • Rayani Lubis meniadakan marga di belakang nama setelah menikah dengan pelukis Sriwidodo pada tahun 1969 dan menambahkan nama suaminya di belakang namanya sehingga menjadi Rayani Sriwidodo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.