Puisi: Di Bulan Mei (Karya Hendro Siswanggono)

Puisi "Di Bulan Mei" karya Hendro Siswanggono mengundang pembaca untuk merenungkan tema-tema seperti waktu, ingatan, kesepian, dan perubahan.
Di Bulan Mei

Di bulan Mei yang dingin dan cerah
Arloji berputar-putar tenang
Menyelinap dilipat-lipat
Berulang-ulang bagai foto keluarga di ruang tamu
Terpapar dinding berlumut
Wajah selebar bola dunia
Tatapan tajam mengikut ke mana-mana
Suara-suara gema doa-doa yang sudah dihapal
Muka dingin memancar dari pigora
Angin kecil berputar-putar di beranda
Setumpuk debu kesepian di sudut keranda


Sumber: Topeng Gerabah Bermata Cumbu (2021)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Bulan Mei" karya Hendro Siswanggono adalah sebuah karya sastra yang mengeksplorasi tema-tema seperti waktu, ingatan, dan kesepian. Puisi ini menggunakan bahasa dan citra yang kuat untuk menciptakan suasana dan gambaran yang mendalam.

Bulan Mei: Bulan Mei, yang digambarkan sebagai dingin dan cerah, adalah latar waktu yang penting dalam puisi ini. Ini mungkin digunakan untuk menciptakan suasana kontras yang kuat, menggambarkan ketenangan alam pada saat yang sama menghadirkan gambaran yang lebih gelap.

Arloji: Arloji yang berputar-putar merupakan metafora yang menarik. Arloji adalah simbol waktu dan pengingat, dan pengulangan putaran arloji bisa mencerminkan perasaan monoton atau rutinitas dalam hidup seseorang. Penggunaan arloji ini bisa merujuk pada bagaimana waktu berlalu tanpa henti, meskipun dalam situasi yang mungkin datar atau hambar.

Foto Keluarga di Ruang Tamu: Citra foto keluarga yang berulang-ulang terlipat-lipat dan terpapar di dinding berlumut menciptakan kesan nostalgia dan ingatan. Ini mungkin menggambarkan kesepian dan perasaan merenung tentang masa lalu yang telah berlalu.

Wajah Selebar Bola Dunia: Gambaran tentang wajah yang selebar bola dunia bisa diinterpretasikan sebagai perasaan melibatkan diri dalam dunia yang sangat luas, atau sebagai perasaan melihat banyak hal namun tetap merasa sepi dan kesepian.

Suara-Suara Gema Doa-Doa: Suara-suara ini menunjukkan unsur spiritual dan religius dalam puisi. Mereka menghadirkan citra doa-doa yang diucapkan dengan keyakinan, namun mungkin juga merujuk pada ketidakpastian atau kebingungan.

Muka Dingin: Gambaran tentang muka yang dingin memancar dari pigora mungkin merujuk pada perasaan kehilangan atau kematiannya seseorang, yang menghasilkan perasaan sepi dan kesedihan.

Angin Kecil dan Debu Kesepian: Angin kecil yang berputar-putar dan setumpuk debu kesepian di sudut keranda adalah citra yang menggambarkan perasaan kesepian yang mendalam. Mereka menciptakan suasana yang memilukan dan melankolis, dan merujuk pada perasaan yang merasuki pemikiran pembicara dalam puisi.

Puisi "Di Bulan Mei" adalah karya sastra yang mengundang pembaca untuk merenungkan tema-tema seperti waktu, ingatan, kesepian, dan perubahan. Penggunaan gambaran dan bahasa metaforis menciptakan puisi yang kaya dan mendalam dalam ekspresinya terhadap perasaan manusia.

Hendro Siswanggono
Puisi: Di Bulan Mei
Karya: Hendro Siswanggono

Biodata Hendro Siswanggono:
  • Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.