Puisi Hendro Siswanggono

Puisi: Bisik-Bisik saat Ziarah (Karya Hendro Siswanggono)

Bisik-Bisik saat Ziarah Idealisme seperti dunia yang tergantung Gagasan-gagasan dibangun dari ketaksadaran Emosi liar bergentayangan Roh berjalan sen…

Puisi: Bayangan-Bayangan (Karya Hendro Siswanggono)

Bayangan-Bayangan Bayangan-bayangan lewat kaca Daun dan daun yang riuh pada dinding jatuh Senjapun jadi penuh Garis-garis warna yang menghilang Bayan…

Puisi: Perang Takkan Berakhir (Karya Hendro Siswanggono)

Perang Takkan Berakhir Perang takkan berakhir di bulan suci kering kecoklatan tanpa peduli dan satu-satunya duka yang tersisa merenangi kabut hingga …

Puisi: Merasakan Sesuatu (Karya Hendro Siswanggono)

Merasakan Sesuatu Merasakan sesuatu di luar diri Seorang asing yang was-was dan curiga Bintang-bintang penerang tak menyuluh apapun Gambaran realitas…

Puisi: Bangun Pagi (Karya Hendro Siswanggono)

Bangun Pagi Bangun pagi sebelum terang tanah Merah muda adalah sebaik-baiknya warna Detik ke detik lelah menghitung dirinya Jam 29 melewati rumah-rum…

Puisi: Hidangan (Karya Hendro Siswanggono)

Hidangan Hidangan lezat makan malam menikmati kebebasan yang manis dan tak mengenalnya tak pernah merasakan remaja saat muda ruang bawah tanah yang m…

Puisi: Memandang Grafiti Dinding Kota (Karya Hendro Siswanggono)

Memandang Grafiti Dinding Kota Memandang grafiti di dinding kota gambar perempuan telanjang membelakang kamera bunga-bunga merah dengan daun hijau me…

Puisi: Pulang (Karya Hendro Siswanggono)

Pulang / seperti tragedi dengan kerinduan kalau aku datang bukakan pagar benahi meja masukkan lemari mobil-mobilan mainan boneka baju-baju lama kelua…

Puisi: Stasiun Kereta Api Kota Malang (Karya Hendro Siswanggono)

Stasiun Kereta Api Kota Malang kala siang suatu hari di bulan Agustus Kota Malang akhirnya, gerbong-gerbong kereta yang kembali dan tak dikenali, per…

Puisi: Aku Mendengarmu (Karya Hendro Siswanggono)

Aku Mendengarmu Aku mendengarmu saat kau diam Aku melihatmu saat kau tak menampakkan diri Aku merabamu saat engkau sejauh tak ada Aku membaui aromamu…

Puisi: Musim Panas Memudar di Hari Sore (Karya Hendro Siswanggono)

Musim Panas Memudar di Hari Sore Musim panas memudar di hari sore pucuk-pucuk pinus kemerahan gelap tersaput kabut aroma kemurungan memberi ruang jal…

Puisi: Di Bulan Mei (Karya Hendro Siswanggono)

Di Bulan Mei Di bulan Mei yang dingin dan cerah Arloji berputar-putar tenang Menyelinap dilipat-lipat Berulang-ulang bagai foto keluarga di ruang tam…

Puisi: Ingatan akan Sesuatu (Karya Hendro Siswanggono)

Ingatan akan Sesuatu Ingatan akan sesuatu masih bertahan Dan akhirnya aku merasa bahagia Tak salah menyembunyikan hal-hal yang mustahil Burung-burun…
© Sepenuhnya. All rights reserved.