Puisi: Musim Panas Memudar di Hari Sore (Karya Hendro Siswanggono)

Puisi "Musim Panas Memudar di Hari Sore" mengekspresikan kehampaan, kesendirian, dan rasa nostalgia yang melimpah melalui gambaran alam yang tenang.
Musim Panas Memudar di Hari Sore


Musim panas memudar di hari sore
pucuk-pucuk pinus kemerahan gelap tersaput
kabut aroma kemurungan memberi ruang
jalan setapak berkelok sempit

    Di atas pohonan pandangan yang hilang
    bertahun-tahun kesepian tiada mengerti apa-apa
    kesadaran adalah masa lalu yang terlupa
    sebentang ladang telah dilintasi bajak

Di musim hujan dan menuai di musim panas
tercabik dari segala yang dipahami
kata-kata seperti permainan yang masuk akal
memandang pintu belakang yang terbuka

    Menjalani arah yang melingkar
    melempar milik siapa yang tak dikenal
    pucat seperti bayangan yang pudar
    tidak bergerak hingga malam tiba

Berganti mimpi cerah dengan segala keajaibannya
menggigil setiap kata-kata suara memanggil
terapung-apung di pulau terpencil
di tengah lautan jukung kian terkucil


Sumber: Seekor Ular yang Bertukar Rupa (2020)

Analisis Puisi:
Puisi "Musim Panas Memudar di Hari Sore" karya Hendro Siswanggono adalah potret kesunyian dan perubahan yang terjadi dalam suasana musim panas yang memudar menjelang senja. Penyair mengekspresikan kehampaan, kesendirian, dan rasa nostalgia yang melimpah melalui gambaran alam yang tenang.

Perubahan Musim: Puisi ini memperlihatkan perubahan musim dari teriknya musim panas yang mulai memudar saat hari menjelang senja. Pohon pinus yang pada siang hari tampak kemerahan dan cerah, sekarang tenggelam dalam bayangan yang gelap karena semakin memudarnya musim.

Kesendirian dan Kehampaan: Penyair mengekspresikan suasana kesendirian yang amat dalam, di mana pandangan yang hilang terkesan sebagai representasi perasaan yang terlupakan dan keadaan kesepian yang tahan bertahun-tahun.

Perubahan dalam Pemahaman: Puisi ini menyinggung perubahan dalam pemahaman dan kesadaran yang tampaknya telah terlupa. Ada kesan kata-kata yang tidak lagi dapat menjelaskan realitas, dan pandangan menjadi semakin pudar seperti bayangan yang tak bergerak hingga malam tiba.

Kesimpulan yang Penuh Nostalgia: Penutup puisi ini menampilkan perubahan dari mimpi yang cerah ke suasana yang lebih hampa dan sepi. Penyair merenungkan tentang bagaimana setiap aspek kehidupan dan keajaiban dapat berganti menjadi ketidakpastian dan kesendirian di tengah lautan kehidupan.

Puisi ini menghadirkan gambaran tentang kesunyian, nostalgia, dan perubahan dalam suasana musim serta perasaan yang merasuk dalam diri penyair. Menghadirkan refleksi tentang kehidupan dan perubahan alam yang berdampak pada keadaan batin seseorang.

Hendro Siswanggono
Puisi: Musim Panas Memudar di Hari Sore
Karya: Hendro Siswanggono

Biodata Hendro Siswanggono:
  • Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.