Surat dari Muara Teweh
Aku datang di sini mendaki pinggir kota yang landai
Bertiup angin kering pucuk pohonan yang tunduk
Bumi berpunggung-punggung rengkah
Bagai dahagaku yang rindu kerna kautinggal dalam resah
Musim adalah selalu hadir atas kita
Tapi tidak sangsi sekali berpaling dari berburu cinta
Kerna aku telah bertolak
Dari kota tinggal sedari kaki mulai berpijak
Memang adalah terlalu jauh mata air membawa hati kita
Dan sebuah tangan mengunjuk bagai mengisyarat kata terdengar
Kau pun tinggal sepi, Farida
Aku datang di sini dan berdiri di tanah tinggi
Bila malam tiba
Yang ingin kulengos kata-kata samar yang tak ingin kudengar
Aku sangat rindu
Kehendak adalah tantangan dari kota sepi yang kutinjau
Kemilau yang membakar matahari musim kemarau
Begitu mereka tajam-tajam menampar dan bisiknya begini:
Ah, kapan kau pulang, yamani
