Tragedi Bintaro
Dari Catatan 1987
Petugas Stasiun Sudimara
Kukejar kereta
yang tiba-tiba melaju
aku mengejar
sekuat tenaga
Di depan sana
maut menunggu
ratusan jiwa terancam
sungguh, aku tak berdaya
Mereka menyongsong takdir
terpahat dalam lembaran hidup
Mendung menyelimuti langit
seketika cahaya meredup
selubung duka tersingkap
Tangis, rintihan, dan airmata
tertiup angin sejauh-jauhnya
mengejutkan keluarga dimana saja
Ya Allah
ampunilah mereka
baringkan dengan teduh
di keagungan rumah-Mu
Jakarta, 16 Februari 2014
Analisis Puisi:
Puisi "Tragedi Bintaro" karya Aspar Paturusi adalah penggambaran yang menyentuh tentang tragedi Bintaro yang terjadi pada tahun 1987 di Indonesia. Dalam puisi ini, Aspar Paturusi membawa pembaca pada perjalanan emosional yang melibatkan keputusasaan, ketakutan, dan harapan dalam menghadapi bencana yang tragis.
Ketegangan dan Keputusasaan: Puisi dimulai dengan gambaran tentang kejar-kejaran dengan kereta yang melaju kencang, menciptakan atmosfer ketegangan dan keputusasaan. Ketika penulis menyadari bahwa di depannya ada bencana yang tak terelakkan, perasaan ketidakberdayaan melanda.
Bintang-Bintang Terancam: Aspar Paturusi menggambarkan keadaan yang menegangkan di dekat tragedi Bintaro, dengan ratusan jiwa yang terancam di tengah kegelapan malam. Bahkan langit yang tadinya redup menjadi semakin gelap, mencerminkan kesedihan dan kehancuran yang akan menyelimuti.
Ekspresi Emosional: Dalam puisi ini, ekspresi emosional seperti tangis, rintihan, dan airmata menjadi gambaran yang sangat kuat. Mereka terbawa angin dan mengejutkan keluarga-keluarga di mana pun. Ini menggambarkan betapa luasnya dampak tragedi ini, tidak hanya terbatas pada para korban langsung, tetapi juga keluarga dan kerabat mereka.
Permohonan dan Doa: Puisi ini diakhiri dengan permohonan dan doa kepada Allah untuk memberikan ampunan kepada para korban dan menghantar mereka ke rumah-Nya dengan penuh keagungan. Ini mencerminkan kebutuhan manusia untuk mencari makna dan penghiburan dalam situasi tragedi yang mengguncang.
Dengan bahasa yang sederhana namun kuat, Aspar Paturusi berhasil menangkap esensi dari tragedi Bintaro dan menghadirkannya dalam sebuah puisi yang menggugah perasaan. Puisi ini bukan hanya sekadar pengingat akan bencana yang memilukan, tetapi juga sebuah ungkapan penghormatan kepada para korban dan penghiburan bagi mereka yang ditinggalkan.
