Kota Tua
Kota tua banyak berjendelanya,
memandang garis rumah,
trotoar dimataku menjelma wanita terlunta,
dinding kusam - retakannya tak berdaya,
lampu papan iklan jalan terang ke rayuan - kerap menyimpan khianat pemalsu sejarah lokal;
sudah banyak korban politik adu domba, hidup sempoyongan
di gang gang tempatnya setan Zalanbar penggoda anak-anak.
Pejabatnya sibuk mengatur politik belah bambu,
hasrat ingin dihormat dan dijunjung
Kota adalah impian para musuh,
Jangan ikut campur! Semuanya melebur.
Buliran peluh di buah dada bagai berlian:
"Dulu mudah masuk kesucian tanpa gambar.
Kini banyak peta di tikungan sampai digital tapi sesat diseret gelap"
Kota selalu nampak banyak jendela
apa salah pandang, apa si remang buas
atau tabir gaib sedang beramah tamah melapangkan pelajaran:
Dunia diujikan satu Kekuatan,
lorongnya dua tarikan; hening hutan larangan, tenang pertautan iman ke sang Pemilik Zaman,
lorong keduanya bersambung ke Azazil penipu Adam,
si lancang yang menjual nama-nama Tuhan
Kota terlahir dari kata sumpah serapah,
tak bisa lepas dari garisan arsirnya karena dicipta kita, lapar hyena kita
"Mana tubuhmu yang molek itu!
Aku usap pipimu seperti kaca berdebu"
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.
Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.
Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.
Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
