Pasomppe
Mengantar M. T. Gega ke Pelabuhan
telah bunting
layar
badik terhunus segala
arah
tembok-tembok
karang
mengantar cemasku
ke rongga
kelam
laut
menoleh ke buritan
rindu pantai asal
adalah pantang
di manakah gelombang
mengubur
jejak
pasompe?
Pelabuhan Makassar, 1958
Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)
Catatan:
Pasompe: Pengembara.
Analisis Puisi:
Puisi "Pasompe" karya Rahman Arge merupakan puisi yang mengangkat semangat pengembaraan melalui simbol budaya maritim Nusantara. Kata pasompe dalam budaya Bugis-Makassar berarti pengembara atau perantau yang berlayar meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan, pengalaman, atau cita-cita baru. Catatan penyair yang berbunyi "Mengantar M. T. Gega ke Pelabuhan" semakin memperkuat bahwa puisi ini lahir sebagai ungkapan perpisahan sekaligus doa bagi seseorang yang memulai perjalanan.
Penyair menghadirkan pergulatan batin seorang pengembara. Laut menjadi ruang kehidupan yang penuh tantangan, sedangkan pantai asal menjelma simbol kerinduan yang harus ditinggalkan demi menatap masa depan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengembaraan, keberanian meninggalkan kampung halaman, dan keteguhan menghadapi perjalanan hidup. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
- Perantauan.
- Keberanian menghadapi ketidakpastian.
- Kerinduan terhadap tanah kelahiran.
- Kehidupan maritim.
- Tekad untuk terus melangkah.
Puisi ini bercerita tentang seorang pasompe atau pengembara yang bersiap mengarungi lautan. Kapal telah siap berlayar, layar telah mengembang, dan segala persiapan telah dilakukan untuk menghadapi perjalanan yang penuh risiko.
Di tengah semangat keberangkatan, muncul kegelisahan karena lautan menyimpan berbagai bahaya yang digambarkan melalui karang, laut yang kelam, dan gelombang. Meski demikian, seorang pasompe tidak boleh larut dalam kerinduan terhadap kampung halaman. Menoleh ke belakang hanya akan melemahkan tekadnya.
Pada bagian akhir, penyair mempertanyakan di manakah gelombang menguburkan jejak para pengembara terdahulu. Pertanyaan ini menjadi refleksi bahwa setiap perjalanan akan meninggalkan kisah yang mungkin hilang ditelan waktu, tetapi semangat pengembaraan akan selalu hidup.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap perjalanan hidup menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Kerinduan kepada masa lalu memang wajar, tetapi tidak boleh menghalangi langkah menuju masa depan. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
- Kehidupan adalah sebuah pelayaran yang penuh tantangan.
- Keberanian lebih penting daripada rasa takut.
- Perantauan membentuk kedewasaan seseorang.
- Jejak manusia mungkin hilang, tetapi nilai perjuangannya akan tetap hidup.
- Kesetiaan kepada cita-cita menuntut pengorbanan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Beranilah melangkah menghadapi tantangan hidup.
- Jangan terlalu terikat pada masa lalu jika ingin meraih masa depan.
- Jadikan setiap perjalanan sebagai proses pembelajaran.
- Hadapi ketidakpastian dengan keteguhan hati.
- Tinggalkan jejak kehidupan yang bermakna meskipun waktu akan terus berjalan.
Puisi "Pasompe" karya Rahman Arge merupakan puisi reflektif yang mengangkat kehidupan seorang pengembara sebagai metafora perjalanan manusia. Dengan latar budaya maritim Bugis-Makassar, penyair menghadirkan pelayaran sebagai simbol keberanian meninggalkan kampung halaman demi mencari makna kehidupan.
Puisi ini menyampaikan bahwa setiap perjalanan selalu mengandung risiko, kerinduan, dan harapan. Pada akhirnya, seorang pasompe bukan hanya mengarungi lautan, tetapi juga menempuh perjalanan batin untuk menemukan jati diri dan meninggalkan jejak yang bermakna dalam kehidupan.
Puisi: Pasomppe
Karya: Rahman Arge
Biodata Rahman Arge:
- Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Juli 1935.
- Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
- Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.