Puisi: Batuk (Karya Agus Dermawan T.)

Puisi | Batuk | Karya | Agus Dermawan T. |

Batuk



hari ini rasulmu batuk lagi. udara tidak segar. terik menciptakan lorong
    mengalirkan virus dan kuku sampai ke urat nadi. ou gusti. huk-
    huk-hieekkk. temperatur meningkat batukku semakin menjadi. to-
    long ambilkan syal dan gulungkan di leherku, jagalah suhu.
    tapi sekali-sekali jangan pandang mataku yang merah, jangan
    pandang hei perempuanku. karena kau melitania didyna akan
    serupa daki dan kau papilio glaucus kembali ke ulat lagi.
sungguh gawat keadaan, tubuhku semakin kurus dimakan bintang angan-angan
benar berat kesehatan, dahak semakin kental terbayang sudah tanah peku-
    buran pahlawan
sumpah aku tak rela cuma menangkap purple zeppelin melepas dahaganya
    dan hati tak tega melepas kursigoyang dari kuasa bijaksana ins-
    truksi dan kabar bencana, hidupku masih lama! huk hieekk.
akh, terkutuklah orang yang menyebut aku bagai serigala tua yang meng-
    gonggong-gonggong saja. syukur aku masih tahan menderita, wa-
    hai topi pet gagah dada dan emas lencana!

biasanya pembesar menderita jantung tapi aku justru tuberculosa
biasanya pembesar berobat ke negeri tetangga tapi mengapa aku cuma ter-
    siram teteskuda dicampur sedikit tumbukkan mrica?
rakyat-rakyat, kalian sudah berubah jadi tukang sihir memegang suwuk
    membunuh rajamu
tak berbudi kau padahal telah kubela di setiap jaman. lihatlah tangan besi
    dan mauku pasti berdarah di setiap simpang jalan, hakmu kem-
    bali, walau kau harus menanggung duakali beban
rakyat-rakyat, mengapa kau diam sedang aku butuh pertolonganmu
rakyat-rakyat, kau sudah linglung kau sudah gila kau sudah pingsan karena
    terlalu banyak menderita takut dan putus asa?
huk
huk hieekkk.

*

bagai ada yang menyapa di siang hari bolong tubuhku sekarang bak kepompong
aku telah pasrah aku betapa lemah. dunia bengkak matanya dan kembali-
    kan batalyon pada yang empunya sementara aku membenahi
    dosa-dosa
bagai ada yang melolong di tengah rimba huruhara, giginya meraba dada
    melesak rusak keluarlah jantung luka. hiiieeekkkeeqq! apalah
    arti kemenangan dunia
rakyat-rakyatku, mengapa kau cakup darah dari mulutku dijadikan saren
    dan  diumpankan piaraanmu? astaga

*

pagi tidak enak
siang tidak enak
malam pun tidak enak.
kabarnya aku mati di negeri yang tidak anti tuhan. tetapi orang di kota
    hanya berbicara soal serigala yang tewas ditembak seorang pem-
    buru. dan dikuburkan dekat kandang sapi sambil lidahnya sibuk
    menjilati kakinya sendiri?
dan tidak dilihatnya bunga-bunga
dan tidak dilihatnya airduka
dan tidak dilihatnya tangis-tangis wanita api kebudakan prima
tapi seorang pemimpin gila mengunyah kacamatanya sambil bergegas me-
    nyembunyikan sisa-sisa batuk ke sisi dunia.


1975

Sumber: Horison (November, 1977)

Catatan:
Dengan sedikit perubahan, puisi ini kemudian hari dimuat di buku Sekumpulan Puisi Pantang Kabur (2022).

Agus Dermawan T.
Puisi: Batuk
Karya: Agus Dermawan T.

Biodata Agus Dermawan T.:
  • Agus Dermawan T. lahir pada tanggal 29 April 1952 di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.