Pohon Mata-Mata Abad
(a)
sembilanbelasribu tahun telah silam, belum lagi terjadi nama belum pula
bumi terbelah-belah, batara-batara telah mati, dunia menyobek
kamus inkarnasi
aku pohon yang memandang jauh ke laut, belum lagi ada perahu
aku pohon yang menatap jauh cakrawala, belum lagi ada kereta
dan akulah pohon di ujung abad sejak pertama titik dibuka, tak tercerabut
tegakku tak terurut akar pohon satu di padang sepi semesta.
mripat jaman yang tak tertera di kitab-kitab ruh dan wali.
akulah "mata-mata abad"
menantang matahari ditangkapnya malam, ditumburnya dini disekapnya
rembulan, kaulah tahu kalau aku raja seribu, sejak bumi mem-
biakkan peradaban, sejak kau merangkak mengepal-ngepal batu,
sejak planit-planit berjanji jalan berjauhan, pluto saturnus
dan bundaran tak bernama, tegang dalam kitaran.
kukuhlah pohon "mata-mata abad"!
bermilyard daun gugur hari demi hari, menabur perjalanan malaikat-
malaikat berkuda, mengubur sengketa suku-suku bangsa.
betapa dalam kutembus bumi, betapa tikam kutusuk langit. sejuta
bilion kali kau berteduh dalam gasing waktu, guntur membelit dan
terik menghangus, tak terhitung berapa haus yang tak tertebus,
dan kau berkata;
makhluk raksasa hidup tak bermakna!
hoi, sungguh ngeri geramku nampak kesabaran harus menjadi buta.
(d)
lubang cahaya bergurau dalam grafitasi, bersitegang dan mengaburkan cuaca,
bumi menjadi putih rambut, semakin tua.
ketika padang dipasak batu-batu dan pusaran Ionia memusatkan muara,
talam dimudakan kembali di Yunani dan roda berputarlah,
sungai-sungai ditelusuri hutan telah dibungkah dan tambang pe-
runggu ada di mana-mana. gubuk berdiri
dunia merah
emas digali
lampu-lampu;
merkuri!
kukuhlah pohon "mata-mata abad". berdiri dalam damai gemerlap sutera
dan ciscus bahasa,
manusia lahir di rongga dadaNya
siklus tercipta.
(c)
setiap terjadi tahun kabisat engkau bagai dalam ziarah, pada diam aku se-
lalu bertanya mengapa daratan berdebu selalu basah sepanjang
waktu.
gunung-gunung selalu meledak walau gempa jarang terasa
setiap kau berteduh di bawahku pucat menampar mukamu. duka luluh
bersama.
walau aku asing terlupa,
seribu peristiwa adalah pisaumu betapa tajam mengiris-iris deng-
kurku, o muka-muka berbencana, bahu Siberia didih sahara, ribut
Indochina Buru tanpa sauh dan jangkar.
ketika tangis anakmu tercambuk-cambuk luka, jadilah derita abadi jadilah
buruk yang paling abadi jadilah jadilah jadilah!!! hiii ......
tahan,
aku pohon "mata-mata abad" harus kukuh dan tak boleh selesai bersaksi.
(b)
akar-akarku seperti menghisap gumpalan-gumpalan darahmu, yang terkubur
di atmosfir, tak sedap dan berbau, tapi aku mengerti bahwa kau
membisikkan ceritera sejarah yang asing dan baru
bahwa di suatu ketika,
sebuah pohon menemani aku berdiri
sebuah pohon mendampingi aku bersaksi
sebuah pohon rela membekukan hati
sebuah pohon, sebuah sebuah sebuah lagi!
sahabat,
aku jadi berduka, burung-burung tak lagi mau di pundakku, mereka me-
ngungsi ke gunung-gunung jauh, ketika dirasakannya panas api.
dan tubuhku membaur asap, mulanya hitam lantas bermacam war-
na.
mengusap bangkai-bangkai manusia di bawahnya,
berbaju sengketa.
