Di Loksado Kudengar
Seribu Pohon Bernyanyi
Terkesima aku pada semak pohon dan ilalang
Ribuan tahun bertekun merangkai lereng Meratus
Memberi hijau pada sepetak tanah kelahiran
Di dusun Loksado
Akulah tamu kehidupan mencarimu bertemu
Bagaikan burung pulang menemukan sarang
Terpukau aku pada rumah di rimba
Di balik sekotak jendela kayu merbau
Pagi yang permai menyelinap di tangkai cempaka
Di ranting ulin angin bergegas mengajak bicara
Seakan sedang membentang kebun hidupku
Selamat pagi kupu-kupu pelipur sunyi
Engkaulah penghuni rimba raya semesta
Izinkan aku berkunjung menuju kepompongmu
Mencari bunga liar kesukaan kekasihku
Kutitipkan nanti kepada setiap angin
Mudah-mudahan terkirim dedaunan keringku
Pun kepada lebah rimba yang baik budi
Sisihkan sedikit madumu
Agar kembali mekar semua kenanganku
Menyala di setiap ranting pohonmu
Wahai kayu dahan ranting dan daun-daun
Pada bambu kau ikat adat jagat semesta
Pada bukit kau simpan nyanyian suci
Dalam doa leluhur selalu kau sebut Amandit
Sungai selatan yang menghidupi
Menyeberang jeram Riang Barajang
Desa permai seribu pohon
Kudengar suara angin berdendang
Merintih memekik dan meracau
Seperti itu galibnya kehidupan
Rumah kami rebah di rimba
Segenap pohon angin daun dan bunga
Menyirami kami setiap musim
Ketika mekar bunga kopi Desa Malaris
Tercium harum damar dan kayumanis
Suara seribu satwa burung dan serangga
Riuh mengalun bagaikan simfoni senja
Menyanyikan semua musik hutan
Seperti itu kaharingan kehidupan
Semua menari dan menyanyi
Akhirnya kita harus menangis juga.
