Puisi: Kangen (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Kangen” karya Gunoto Saparie mengangkat perasaan rindu dan cinta terhadap seseorang yang sulit atau tidak mungkin digapai.
Kangen

rinduku api dalam sekam
mungkin abadi, tak juga padam
betapa jauh kau tak tergapai
puisi-puisi pun terserak sunyi

rinduku api dalam sekam
mungkin kekal, arus dalam diam
rindu memanas memanggang diriku
cinta tak akan tumbuh di atas batu

2009-2010

Analisis Puisi:

Puisi “Kangen” karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang mengangkat perasaan rindu dan cinta terhadap seseorang yang sulit atau tidak mungkin digapai. Dengan bahasa yang sederhana tetapi sarat makna, penyair menggambarkan rindu sebagai perasaan yang terus menyala dan sulit dipadamkan. Perasaan tersebut bahkan digambarkan seperti api yang tersembunyi, tetapi tetap memberikan panas kepada orang yang merasakannya.

Puisi ini terdiri atas dua bait. Kedua bait memiliki pola pengulangan yang kuat, terutama pada larik “rinduku api dalam sekam”. Pengulangan tersebut mempertegas bahwa rasa rindu yang dirasakan penyair bukanlah perasaan sesaat, melainkan sesuatu yang menetap dan terus hidup dalam dirinya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan cinta yang tidak tersampaikan atau tidak dapat diwujudkan. Penyair mengungkapkan rasa rindunya kepada seseorang yang keberadaannya terasa sangat jauh dan tidak dapat digapai.

Hal tersebut terlihat jelas dalam larik:

“betapa jauh kau tak tergapai”

Larik tersebut menunjukkan adanya jarak antara penyair dengan orang yang dirindukannya. Jarak tersebut tidak hanya dapat dimaknai sebagai jarak fisik, tetapi juga dapat menjadi simbol adanya keadaan yang membuat hubungan cinta tersebut sulit diwujudkan.

Dengan demikian, tema puisi ini bukan sekadar rasa kangen kepada seseorang, melainkan kerinduan yang tetap bertahan meskipun terdapat penghalang antara penyair dan orang yang dicintainya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta dan kerinduan tidak selalu berakhir dengan pertemuan atau kebahagiaan. Seseorang dapat terus mencintai meskipun orang yang dicintainya berada jauh atau tidak mungkin dimiliki.

Ungkapan “api dalam sekam” menjadi simbol bahwa perasaan yang disimpan dalam hati dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama. Meskipun tidak selalu diungkapkan secara langsung, rasa tersebut tetap hidup.

Larik:

“puisi-puisi pun terserak sunyi”

dapat dimaknai sebagai gambaran bahwa penyair berusaha menuangkan kerinduannya melalui puisi. Namun, puisi-puisi tersebut tetap berada dalam kesunyian karena tidak mampu mengantarkan penyair kepada orang yang dirindukannya.

Sementara itu, larik:

“cinta tak akan tumbuh di atas batu”

mengandung makna bahwa cinta membutuhkan tempat dan keadaan yang memungkinkan untuk berkembang. Jika tidak ada ruang untuk tumbuh, cinta hanya akan menjadi perasaan yang tersimpan dan akhirnya menyakitkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa perasaan cinta dan rindu dapat menjadi sangat kuat ketika seseorang tidak mampu mencapai atau bersama dengan orang yang dicintainya.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa cinta membutuhkan keadaan yang memungkinkan untuk berkembang. Hal tersebut tercermin melalui larik:

“cinta tak akan tumbuh di atas batu”

Batu dapat dimaknai sebagai simbol keadaan yang keras, tertutup, atau tidak memungkinkan. Oleh karena itu, pesan yang dapat diambil adalah bahwa seseorang perlu memahami kenyataan dalam sebuah hubungan. Cinta yang tidak memiliki kesempatan untuk berkembang dapat berubah menjadi sumber kesedihan dan penderitaan.

Di sisi lain, puisi ini menunjukkan bahwa perasaan yang tulus dapat tetap bertahan meskipun waktu dan jarak memisahkan.

Gunoto Saparie
Puisi: Kangen
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.